Oleh: ki puser langit | Januari 9, 2010

Mencari Pengertian Bab : CARA MEMPEROLEH BUDI PEKERTI LUHUR

 

Jalan untuk memperoleh budi pekerti luhur itu ada tiga macam :

Pertama :

Karena dari limpahan rahmat dan pemberian Allah, yang berupa budi luhur bawaan dari lahir (gawan lair). Sempurna dalam fitrah kejadiannya. Ditakdirkan langsung menjadi manusia yang mempunyai budi luhur.

Kedua :

Karena dari latihan, dengan menggunakan ajaran dari agama dan akal

Ketiga :

Karena dari pergaulannya dengan orang-orang yang baik budinya.

Kebalikannya : budi asor (kurang baik / hina) ada juga yang asalnya dari pembawaan lahir (gawan lair); ada yang dari kebiasaan; dan ada yang dari pergaulan.

Orang yang telah ditaqdirkan  memiliki budi pekerti luhur, mudah saja baginya dalam membatasi amarah dan syahwatnya, dan dikendalikan oleh akal pikiran dan ajaran agama. Hal yang demikian ini bisa dinamakan “bakat”.

Pada umumnya kita memiliki budi luhur  karena dari latihan dan pergaulan.

Apakah budi luhur itu bisa diperoleh dengan sarana latihan? Untuk menjelaskan hal tersebut, ada baiknya kita perhatikan beberapa contoh berikut ini :

1. Orang yang berkeinginan untuk menjadi seorang dermawan, yang suka bersedekah dan memberi pertolongan. Ia perlu punya pegertian, bahwa orang bisa dinamakan sudah mapan dalam sifat dermawan jika ia dalam bersedekah dan menolong tersebut didasari rasa ringan tangan dan hati. Tujuan dari pemberian sedekah tersebut tidak didorong oleh watak boros dan karena takut dijuluki sebagai seorang yang pelit/kikir (cethil). Ia bisa menempatkan diri di tengah-tengah antara boros dan cethil tadi.

Pada umumnya orang yang memiliki watak dermawan tersebut adalah orang yang masih ketempatan “rumangsa cethil” (merasa pelit). Kesadaran “rumangsa cethil” itulah yang bisa digunakan sebagai senjata pamungkas dan aweh pameksa marang jiwane dhewe (pemaksa terhadap jiwanya) agar menjalankan apa yang sudah diperintahkan jiwa (hati nurani) untuk bisa berderma hingga bisa ngrasakake marem lan seneng yen bisa wehweh  (puas dan senang bisa berderma).

2. Orang yang berkeinginan untuk menjadi seorang yang andhap asor (rendah hati),  perlu memiliki kesadaran tentang apa yang akan didapatkan oleh orang-orang yang sombong, takabur dan sering ngawur (membabi buta). Caranya yaitu melatih diri dengan jalan menceburkan diri dalam pergaulan dengan orang-orang yang ahli andhap asor. Tidak hanya seminggu dua minggu, tetapi tahunan dan atau dalam waktu yang sangat lama. Ia harus memaksakan jiwanya hingga sampai dengan bahwa andhap asor itu menjadi wataknya.

Dengan cara menjalani apa yang sudah diutarakan dalam contoh-contoh di atas, kita bisa merasakan :

-         Perbedaan suasana hati ketika dulu masih ketempatan rasa cethil dan sekarang setelah berhasil membuang rasa cethil tersebut. Dulu ada rasa owel (tidak ikhlas), sekarang berubah menjadi rasa puas dan bahkan rindu untuk selalu bisa berderma.

-         Perbedaan suasana hati ketika dulu masih ketempatan rasa sombong, takabur dan ngawur dengan sekarang setelah “nglakoni andhap asor”. Dulu hawanya hanya ingin marah melulu dan sekarang sudah bisa sabar jembar dhadhane (lebar dada), tulus ikhlas menjadi orang yang  sama dengan yang lainnya (yaitu orang yang dulunya ia anggap sebagai orang yang hina semua)

Selain itu sekarang bisa memiliki rasa “ora seneng” jika ada orang yang cethil/kikir; dan “ora seneng” jika ada orang yang sombong. Padahal dulu kita sering mendukung jika ada orang yang memakai kedok “hemat” sebagai cara untuk menutupi watak kikirnya tadi. Dulu kita juga sepaham dengan orang yang menggunakan alasan “menjaga kehormatan diri” sebagai cara untuk menutupi watak sombong, menjaga prestise katanya.

Bergaul dengan saudara, teman dan tetangga yang memiliki budi luhur yang dialami dari kecil, ketika muda, sampai di hari tuanya, dengan tidak kita sadari pergaulan yang baik itu bisa menulari diri kita sampai menjadi terbiasa “nindakake kautaman” (menjalankan keutamaan), yang karena budi luhur selalu terbangun dalam hati kita.

Ada saja dalam bermasyarakatorang yang memiliki sifat sok-sok tuwuh watak asore, dan sok-sok berubah menjadi wong sing utama. Yang demikian itu menggambarkan adanya “derajat peralihan” antara budi asor dan budi luhur. Wataknya masih miyar-miyur atau plin-plan.

Untuk memperkuat keyakinan bahwa budi asor perlu segera kita buang dan budi luhur segera kita jalani (tanpa diundur-undur lagi), kita perlu tansah eling (selalu ingat) pada perintah Allah : “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula”. (Al Zalzalah 99 : 7-8)

 

puserlangit

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: