Oleh: ki puser langit | Januari 17, 2010

ASAL MUASAL KALENDER JAWA

Dalam hati kita tentu akan bertanya-tanya, mengapa kalender Jawa sangat identik dengan kalender Hijriyah? Sebenarnya kalender ini pada awalnya sangat berbeda dan berjalan sendiri-sendiri. Namun yang kita alami pada saat ini, kedua kalender ini bisa berjalan bersama-sama bahkan sangat identik. Rasanya mustahil, karena kalender Hijriyah berasal dari negeri Arab, dan kalender Jawa dari Indonesia  yang sangat jauh dari negeri Arab. Untuk menghilangkan rasa penasaran dari benak kita, marilah kita telusuri awal mulanya mengapa dan bagaimana kalender ini bisa beriringan dan hanya berbeda angka tahunnya saja.

Dulunya kedua kalender ini berjalan sendiri-sendiri. Jauh sebelum Indonesia mengenal kalender Masehi dan Hijriyah, nenek moyang kita yang penganut aninisme, Hindu dan Budha sudah mempunyai kalender sendiri yaitu kalender Icaka. Ini pun sebenarnya bukan kalender asli Jawa, tetapi kalender India yang lahir pada 14 Maret 78 (Masehi) yang dibawa ke Jawa oleh Ajisaka setelah sebelumnya berhasil mengalahkan raja kanibal Dewatacengkar dari kerajaan Medangkamulan. Masyarakat Jawa mengenal kalender India tadi sebagai kalender Saka yang mengambil dari nama Ajisaka. Popularitas Ajisaka juga oleh kepiawaiannya menciptakan 20 biji aksara Jawa ha-na-ca-ra-ka.

Setelah Islam masuk ke Jawa, masyarakat mulai mengenal kalender Hijriyah. Tetapi kurang populer karena sudah terlanjur mengakrabi kalender Saka. Tetapi Raja Mataram Islam Sultanagung Hanyokrokusumo punya gagasan gila-gilaan untuk mereformasi kalender Saka dengan Hijriyah pada 8 Juni 1633 (Masehi), yang secara kebetulan bertepatan dengan tanggal 1 Suro 1555 Saka dan juga tanggal 1 Muharam 1043 Hijriyah. Artinya, sejak tanggal tersebut, kalender Saka diidentikkan dengan kalender Hijriyah. Reformasi gila, karena kalender Saka itu berbasis solair berdasarkan hitungan bumi mengitari matahari dimana setahunnya terdiri dari 365/366 hari, sedangkan kalender Hijriyah itu berbasis lunair berdasarkan hitungan rembulan mengitari bumi (satu tahun = 355/356 hari saja).

Reformasi gila, karena hitungan  angka tahun kalender “baru” bukan diawali dari tahun 1, tetapi tetap melanjutkan angka milik kalender Saka, yaitu tahun 1555 dst sehingga masyarakat Jawa “tertipu” bahwa kalender Jawa hasil rombakan Sultan Agung adalah juga kelanjutan kalender Saka terdahulu. Sejak 376 tahun yang lalu, tanggal 1 Suro kalender Jawa selalu bersamaan dengan 1 Muharam kalender Hijriyah, tetapi tidak pas lagi dengan 1 Suri kalender Saka. Sejak 376 tahun yang lalu kalender Saka secara terbatas tetap digunakan oleh masyarakat pemeluk Hindu di Bali, Tengger, Samin dan Badui, sampai sekarang. Di tahun Masehi 2009 sekarang ini tahun Jawa masuk hitungan ke-1943, sementara tahun Saka asli berada di hitungan tahun ke-1932. Hal itu dikarenakan kalender solair setiap tahunnya lebih panjang 10 hari ketimbang kalender lunair, menjadikan sejak 375 tahun silam antara tahun Saka dengan tahun Jawa sudah mengalami keterpautan hingga 11 tahunan.

Nah, demikian asal muasal terciptanya kalender Jawa. Semoga bisa menambah wawasan bagi kita dan juga bisa menghilangkan rasa penasaran dalam benak kita tentang bagaimana mungkin kalender Jawa bisa beriringan dan berjalan bersama serta identik dengan kalender Hijriyah. Tentang hari dan bulan pada kalender Jawa yang oleh masyarakat Jawa dianggap sebagai hari atau bulan yang sangat SAKRAL akan kami sampaikan di lain kesempatan. Semoga.

Oleh: ki puser langit | Januari 10, 2010

Tingkatan Ngelmu Dalam Kejawen

 

Perlu diketahui bahwa Kejawen selain berarti Kebatinan/ Spiritualitas Jawa,juga mencakup aspek-aspek budaya dan filosofi Jawa seperti :

1. Tradisi dan Ritual

2. Tata krama, tata susila

3. Sikap dan perilaku kehidupan yang dipandu oleh Budi Pekerti

4. Hal-hal yang dikategorikan sebagai supranatural

5. Tataran tertinggi adalah Ngelmu Kasampurnan atau Kebatinan atau Spiritualitas.

Seorang tradisional Jawa yang dibesarkan dan dididik secara tradisional ditanah Jawa, sejak kecil mengikuti pola jalan kehidupan yang ditanamkan oleh orang tua , leluhur dan masyarakat untuk selalu berpegang kepada budi pekerti luhur, tata krama, tata susila, hormat kepada orang tua dan pinisepuh dan diatas segalanya selalu mengagungkan Gusti, Sing Gawe Urip lan Nguripi- Tuhan, Yang Membuat Hidup dan Menghidupi.

 

Ngelmu Kasampurnan

Ngelmu Kasampurnan adalah Kebatinan atau dalam pengertian universal disebut spiritualitas, istilah lainnya: Ngelmu Sejati atau Kasunyatan.Orang yang mempelajari spiritualitas adalah orang dewasa yang telah matang jalan pikirannya. Orang yang masih senang menggeluti kenikmatan yang melulu bersifat keduniawian seperti masih menumpuk harta kekayaan berupa materi, mencari posisi kekuasaan yang memberi kepuasan duniawi, tentu tidak atau belum tertarik kepada spiritualitas atau Ngelmu Kasampurnan.

Seseorang biasanya akan mulai tertarik kepada spiritualitas atau mulai memahaminya bila kehidupannya mulai tenang, sudah imbang, sudah balance pemahaman hidup duniawi dan spiritual.

Manusia sudah berada dalam tingkat kesadaran bahwa hidup didunia ini selain berurusan dengan kehidupan duniawi yang benar dan baik, juga ada kehidupan spiritual yang harus difahami.Apalagi dia tahu benar bahwa hidup didunia ini relatif tidak lama. Sebaiknya dia bersikap bijak dan lalu mulai menapaki kehidupan spiritual yang akan mengantarkannya kemasa mendatang yang terjamin dibawah naungan Gusti, Tuhan Sang Pengatur Kehidupan Sejati.

 

Tingkatan Ngelmu sebelum Ngelmu Kasampurnan

Orang tradisional Jawa mengetahui, apalagi dimasa lalu, bahwa dimasyarakat dikenal ada orang-orang tua/ dituakan yang disebut Wong Tuwo, Wong Pinter, Priyayi Sepuh atau Guru Kebatinan atau Guru Ngelmu yang memberi tuntunan pelajaran kebatinan kepada murid-muridnya atau anggota paguyubannya. Selain mengajari spiritualitas kepada orang-orang yang berminat, seorang Priyayi Sepuh juga sering dimintai tolong oleh siapapun yang butuh bantuannya dalam berbagai bidang yang pelik dalam kehidupan ini.Pertolongan  itu diberikan dengan ikhlas, tanpa menarik beaya. Inilah beda antara Guru Laku/Priyayi Waskita/Sepuh dengan praktek paranormal atau psychic yang menarik bayaran untuk bantuan yang diberikannya.

Untuk orang Jawa tradisional, sebelum orang  belajar ngelmu yang tertinggi yaitu Kasampurnan atau Kebatinan , ada yang terlebih dahulu mempelajari pengetahuan supranatural yang tingkatannya dibawah Spiritualitas, Ngelmu Kasampurnan, tingkatannya sebagai berikut :

 

Kanoman

Kanoman dari kata dasar, nom, anom, enom artinya muda. Maka kanoman biasanya diartikan sebagai “ ngelmu muda” untuk anak muda, sedangkan “ngelmu sepuh” untuk orang dewasa.

Pada masa lalu ada beberapa remaja Jawa tradisional yang jalan kehidupannya sangat dipengaruhi oleh atau bahkan menyatu dengan lingkungan alam dan sikap dan kebiasaan hidup masyarakat disaat itu yang tertarik untuk ikut menjalani olah/latihan kanoman.

Mayoritas anak muda berpikiran dan berperilaku positif, sikap hidupnya dituntun oleh panduan Budi Pekerti dan sangat percaya kepada kekuasaan tertinggi dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Lingkungan kehidupan dan alam sekitarnya membuat mereka lebih peka terhadap adanya hal-hal yang tidak terlihat tetapi sebenarnya ada, bahwa ada dimensi lain yang dikatakan gaib dalam kehidupan ini.

Suara hati berkata supaya kehidupan didunia ini berjalan baik-baik saja, tidak ada yang suka berbuat jahat kepada pihak lain. Tetapi kenyataannya tidak begitu, dari masa dahulu, watak dan perbuatan jahat sudah ada. Ada orang yang senang menonjolkan diri, memikirkan dirinya sendiri dan berbuat untuk kesenangan dan keuntungan dirinya.

Berbagai macam jenis dan tindak kecurangan, kelicikan, kejahatan yang kentara dan tidak kentara, kriminalitas kecil-kecilan sampai klas kakap pada kenyataannya mewarnai kehidupan didunia ini.

Pada dasarnya, anak muda terpanggil untuk berbuat baik, menegakkan kebenaran. Dari cerita wayang, legenda kuno, dari dulu selalu terjadi pertempuran antara yang baik melawan yang jahat dan pada akhirnya setelah melalui perjuangan panjang yang baiklah yang menang.Untuk mencapai kemenangan haruslah ada usaha yang tekun dan rajin, disertai sikap pantang menyerah untuk antara lain berlatih dan belajar meningkatkan kemampuannya dalam seni bela diri.

Pada jaman kuno, anak-anak muda belajar dengan cara nyantrik di padhepokan, berguru kepada seorang guru yang mumpuni. Diperguruan  ditanamkan pelajaran-pelajaran seperti Budi Pekerti, Pengetahuan Umum, Kanuragan dan hal-hal yang mengarah ke Kebatinan.

Guru yang menentukan tingkat pelajaran dari siswa, berdasarkan pengamatan dan penilaiannya terhadap kemampuan setiap siswa

Pada prinsipnya guru hanya menerima siswa yang berwatak baik dan sungguh-sungguh punya niat untuk belajar.

Persyaratan yang ditentukan  adalah : Berwatak satria artinya punya rasa tanggung jawab, berani karena benar, jujur, punya rasa welas asih kepada sesama, hormat kepada guru dan sanggup menjunjung nama baik perguruan.

Sambil melakukan pekerjaan praktis setiap harinya untuk menunjang kehidupan di padhepokan seperti : bertani, berkebun, berternak, mengambil air, membersihkan rumah dan halaman; para siswa juga belajar ilmu dan ngelmu sesuai dengan tingkatnya.

Selain tetap diajarkan Budi Pekerti, tata krama, tata susila untuk pergaulan dimasyarakat,diajarkan pula pengetahuan umum dan berbagai ketrampilan untuk bekal menunjang keperluan hidupnya dikelak kemudian hari. Salah satu pelajaran dan pelatihan yang penting adalah olah supranatural yang sesuai dengan klasnya, untuk para muda dilatih dengan kanuragan.

 

Kanuragan

Dalam kanuragan yang dilatih, ditatar adalah raga, sehingga orang yang mempelajari dan mempraktekkan kanuragan  menjadi kuat dan bahkan dibilang sakti karena dia menjadi antara lain kuat menerima pukulan, tidak mempan senjata tajam , tembakan peluru dan sebagainya. Kanuragan biasanya diminati oleh golongan muda, setelah mereka melihat dan mengalami hasilnya yang menakjubkan, mereka menjadi lebih percaya kepada hal-hal yang bersifat supranaturalis. Untuk orang-orang tertentu kelebihan positif dari kanuragan, membuat mereka ingin mempelajari juga Kebatinan / Spiritualitas.

Kanuragan selain belajar seni bela diri terutama untuk mempertahankan diri bila diserang, juga untuk berlaga, menyerang lawan. Selain itu siswa juga mulai diberi ajaran yang berupa mantra atau aji-aji untuk keselamatan, untuk memayungi diri dari segala macam gangguan fisik dan non-fisik.

Semakin dewasa umur seseorang dan juga cara berpikirnya, dia menjadi lebih sabar, lebih mampu mengendalikan diri, maka secara alami dia akan lebih memilih penggunaan mantra-mantra keselamatan atau karahayon dari pada aji-aji kanuragan.

Contoh ekstrim : Seorang petugas keamanan yang masih muda, sangat bangga bahwa peluru yang ditembakkan kepadanya oleh musuh tidak mampu menembus badannya, dia kebal, anti peluru. Dia senang dikagumi oleh rekan-rekannya, ditakuti para penjahat. Sedangkan seorang petugas yang lebih tua, lebih bijak, dia lebih senang bila senjata yang ditembakkan kepadanya, tidak bisa meletus, sehingga dia aman. Petugas lain yang lebih tua akan lebih senang , bila musuh dan penjahat menyingkir darinya.

 

Kadonyan

Tingkat selanjutnya adalah supaya selamat, makmur, bahagia dalam menjalani kehidupan ini. Pada tingkatan ini biasanya orang telah hidup berkeluarga.Orang Jawa tradisional bilang supaya hidup wajar, cukup sandang, pangan, papan dan tentunya berbagai keperluan lain yang esensial seperti menyekolahkan anak, kesehatan, sekadar tabungan dsb.

Sebagai layaknya orang berumah tangga, punya anak, dia akan berusaha untuk punya pekerjaan atau usaha yang bisa mencukupi dengan baik kebutuhannya bersama keluarga. Untuk itu selain harus punya kemampuan dan ketrampilan, juga diperlukan laku prihatin  dengan permohonan kepada Tuhan dan juga disertai amalan/mantra yang sifatnya Kadonyan – keduniawian untuk menaikkan derajat, pangkat dan semat – kedudukan, kekuasaan dan kekayaan.

Jalan kehidupan aktif bekerja, berkarya,setelah menyelesaikan sekolah dan mulai bekerja dan kemudian berumah tangga, punya anak-anak, lalu mendidik, membesarkan dan mengentaskan anak-anaknya, itu merupakan suatu perjalanan panjang dari kehidupan seseorang didunia ini, berkisar sekitar 25 sampai 30 tahunan. Selama kurun waktu itu, belum tentu segalanya berjalan mulus, kadang-kadang ada gejolak, itulah romantika kehidupan. Keterlibatan orang dalam Kadonyan- kehidupan duniawi menyita banyak waktu, bahkan sebagaian terbesar dari hidupnya dan bahkan ada orang yang terpaksa atau memang sengaja, tidak mau atau tidak mampu keluar dari urusan ini sampai akhir hidupnya didunia fana ini.

Dalam tahapan hidup duniawi ini, orang harus berhati-hati, untuk selalu berpegang kepada jalan yang benar dan baik yang diperkenankan Tuhan, jangan sampai tergoda oleh bujukan nafsu yang menyesatkan.

 

Kasepuhan

Menginjak usia yang lebih tua, sepuh, emosi biasanya sudah lebih mudah untuk dikendalikan. Sudah banyak pengalaman hidup baik yang manis, susah sudah dilewati. Ada diantara kita yang berminat mempelajari Ngelmu Kasepuhan. Disebut kasepuhan karena memang biasanya disenangi oleh orang tua-tua atau orang dewasa yang bijak.

Kasepuhan dipelajari untuk menyembuhkan orang sakit, baik sakit fisik, maupun mental, membantu orang yang berada dalam kesulitan, memberikan perlindungan bagi yang perlu keselamatan, untuk membantu kelancaran usaha, pekerjaan dsb.

 

Ngelmu Kasampurnan/ Ngelmu Sejati

Inilah tingkatan ngelmu yang tertinggi dari Kejawen, istilah lainnya adalah Kebatinan, Kasunyatan atau Spiritualitas. Ngelmu ini menguak kasunyatan atau realias dari kehidupan sejati. Orang bijak yang telah mencapai ngelmu sejati akan melihat kenyataan hidup yang sejati, dimana semuanya telah terbuka sehingga tidak ada lagi rahasia dalam kehidupan ini

Oleh: ki puser langit | Januari 10, 2010

Upacara selamatan/syukuran untuk diri pribadi

 

Seseorang yang merasa mendapatkan anugerah atau karunia dari Allah, tentu akan bersyukur. Misalnya : mendapatkan kenaikan pangkat, mendapatkan jabatan yang lebih tinggi, seperti diangkat menjadi direktur, kepala kantor, lurah, bupati, gubernur, dan sebagainya. Secara tradisi, ungkapan rasa syukur dilakukan dengan mengadakan upacara kecil berupa syukuran atau slametan.

Upacara syukuran dilakukan bersama dengan keluarga , teman-teman dekat, teman-teman sejawat, tetangga dll. Secara tradisional acara syukuran dimulai dengan doa bersama, dengan duduk bersila di atas tikar, melingkari nasi tumpeng dengan lauk pauk dan sesaji. Yang terpenting adalah doa, ucapan syukur yang ditujukan kepada Gusti Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang, yang telah memberikan anugerah kepada seorang titahnya. Pada umumnya inti doa adalah sebagai berikut : Setelah mengucap syukur atas anugerah yang dilimpahkan Allah, semoga titah yang mendapatkan karunia dan kepercayaan dari Allah  berupa kedudukan yang lebih tinggi, yang telah menaikkan derajatnya dan sekaligus tanggung jawabnya, selalu mendapatkan bimbingan-Nya, untuk selalu mampu melaksanakan tugasnya dengan selamat, baik dan benar. Semoga dijauhkan dari segala goda dan halangan yang bisa menjadikan petaka bagi diri, keluarga, maupun instansinya.

Dengan selalu memohon berkah Tuhan dengan penuh kesadaran untuk mengaplikasikan segenap pengetahuan dan kemampuannya secara maksimal, bekerjasama dengan kolega-koleganya dengan sinergis, maka segala usaha dan upayanya akan membawa berkah kebaikan, kesejahteraan dan kemajuan bagi instansi, jawatan atau daerah yang dipimpinnya.

Setelah doa, dilanjutkan dengan acara pemotongan tumpeng, santap bersama dan ramah tamah.

Pada saat ini, untuk praktisnya, nasi tumpeng, lauk pauk dan sesaji (kalau ada) ditaruh diatas sebuah meja. Seluruh hadirin melakukan doa bersama dengan berdiri mengelilingi meja. Kalau mejanya kecil, sesaji (kalau ada) ditempatkan dimeja lain.

 

Catatan mengenai sesaji :

Sesaji yang diadakan untuk mengiringi upacara syukuran, maksud tujuannya seperti doa. Intinya adalah bersyukur kepada Gusti Allah, dan semoga dengan berkah Nya, segala tugas akan dilaksanakan dengan selamat, baik, benar dan membawa kesejahteraan dan kemajuan yang lebih baik. Nasi tumpeng komplit sebenarnya mempunyai makna sebagai doa dan sesaji.

 

Syukuran karena terbebas dari halangan

Selain adanya syukuran yang dikarenakan dapat promosi jabatan atau dapat rejeki, orang juga melakukan syukuran setelah terbebas dari halangan berat. Misalnya setelah sembuh dari sakit yang gawat atau terbebas dari penderitaan yang amat berat. Semoga selanjutnya, selalu mendapat perlindungan dan berkah dari Gusti, Tuhan, supaya jalan kehidupannya selalu selamat, sehat dan sejahtera, bahagia lahir batin. 

 

Bersyukur kepada Gusti Allah, selalu ingat kepada asal muasal

Sudah seharusnya, setiap manusia mensyukuri keberadaannya untuk hidup didunia ini. Dengan izin Allah, melalui karsa dan jalinan kasih Ibu dan Bapak, sukma yang berasal dari mula-mula, melangkah turun untuk hidup dibumi.

Setelah melalui proses selama 9 (sembilan) bulan dalam kandungan, sukma yang sudah berpakaian badan komplit kasar dan halus, terlahir sebagai bayi, manusia baru yang akan menjalani hidup sementara didunia ini.

 

Saudara-saudara halus

Orang Jawa tradisional percaya bahwa setiap orang mempunyai beberapa saudara halus – sedulur alus, yang selalu menyertainyanya dimanapun si manusia berada. Para saudara halus yang tidak berbadan fisik ini, mengawal si manusia yang ber-raga fisik. Mereka selalu menyertai, melindungi, membantu, supaya si manusia menjalani kehidupannya dengan selamat, sehat, sejahtera selama hidup dibumi ini. Tugas tersebut adalah sesuai ketentuan dari Allah. Orang Jawa menyebut mereka : Sedulur papat kalima pancer – Saudara empat ,yang kelima pancer , yang terdiri dari :

·         Kakang Kawah, yang keluar dari rahim ibu, sebelum si bayi. Tempatnya di Timur, warnanya putih.

·         Adi Ari-ari. yang keluar dari rahim ibu, sesudah si bayi. Tempatnya di Barat, warnanya kuning.

·         Getih
Darah, yang keluar dari rahim ibu sewaktu melahirkan. Tempatnya di Selatan, warnanya merah.

·         Puser
Pusar, yang dipotong sesudah kelahiran bayi. Tempatnya di Utara, warnanya hitam.

·         Pancer
Keempat saudara diatas tidak punya raga fisik, sedangkan pancer adalah saudara kembar kita yang persis menyerupai kita, hanya saja bersifat gaib. Hanya orang yang telah terlatih dan diberikan kelebihan dari Allah sajalah yang bisa melihatnya, Pancer ini berada di tengah saudara yang empat tadi. Oleh karena itu selain disebut Sedulur papat kalimo pancer, juga dipanggil Keblat papat, kalimo tengah


Selain Sedulur papat kalimo pancer, masih ada lagi ,yaitu :

Mar Marti.

Mereka adalah saudara-saudara manusia yang lebih tua. Mereka itu tidak ikut dilahirkan melalui rahim ibu. Mar, merefleksikan perjuangan ibu saat melahirkan si bayi. Keluar daya, hawa, kekuatan yang hebat untuk hidup dan menghidupi. Marti, merefleksikan keberhasilan ibu sesudah melalui perjuangan. Perjuangan berhasil, rasanya lega. Oleh karena itu, Mar dan Marti, itu dinilai tinggi derajatnya, bagaikan raja dan ratu. Secara mistis warna cahayanya putih dan kuning muda jernih.

Mar Marti akan membantu manusia yang dikawalnya, hanya dalam hal yang penting, dalam keadaan yang benar-benar diperlukan. Manusia bisa meminta bantuan Mar Marti, sesudah dia punya pikiran dan rasa yang jernih, sesudah melalui tapa brata (laku spiritual yang sungguh-sungguh).

Saudara-saudara halus yang lain, bisa dimintai bantuan setiap saat, untuk keperluan kehidupan sehari-hari.

Lebih lanjut ada saudara-saudara halus yang dipanggil : Kabeh kadang ingsun kang metu saka margo ino lan kang metu ora saka margo ino. (Semua saudaraku yang ada, dengan melalui rahim ibu dan yang ada tanpa melalui rahim ibu). Kabeh kadang ingsun kang ora katon miwah kang ora karawatan.(Semua saudaraku yang tidak kelihatan dan tidak terawatt).

Jadi, saudara halus setiap manusia itu banyak sekali, ini yang suka disebut sedulur sinarawedi. Semua saudara halus itu dengan setia melakukan tugas yang telah digariskan Gusti Allah, untuk melindungi dan membantu satu-satunya saudara yang berujud atau bleger (bahasa Jawa) sebagai sosok manusia, yaitu sukma yang memakai raga kasar/fisik dan raga halus/eterik.

Secara umum, selama raga dan seluruh komponen si manusia, masih baik, maka “kesementaraan” keberadaan manusia didunia ini masih berlanjut. Kalau raganya, komponennya tidak berfungsi, karena rusak/penyakit atau sudah aus/tua dan tidak bisa diperbaiki lagi/disehatkan lagi, maka suksma akan kembali ke asal muasal, ke mula-mula hidup, kepada haribaan Allah.

 

Tugas-tugas saudara-saudara halus

Mar Marti  : Membantu untuk hal-hal yang sangat penting. Sedulur papat kalimo pancer dan yang lain-lain : Melindungi dan membantu untuk kelancaran hidup sehari-hari. Tentu bantuan yang diberikan, pada dasarnya adalah untuk hal-hal yang baik-baik.

Perlu diketahui bahwa semua saudara halus selalu bersama dengan figur manusia yang dikawalnya, artinya selalu bersama dengan masing-masing kita, kita sadari atau tidak. Mereka selalu melindungi dan membantu. Banyak yang tidak mengerti bahwa para pengawal yang berupa  saudara halus tersebut, juga merasa senang kalau kita menyadari  kehadiran mereka, terlebih kalau kita juga memperhatikan mereka. Kalau mereka dianggap dan diperhatikan, mereka akan membantu lebih baik lagi. Mereka senang bila setiap saat diajak berpartisipasi dalam setiap kegiatan kita, seperti : minum, makan, belajar, bekerja, menyopir, mandi dsb.

Contoh mengajak saudara-saudara halus, katakan dalam batin :

·         Semua saudara halusku (secara lengkap adalah : Kakang kawah, adi ari-ari, getih, puser, kadang ingsun papat kalimo pancer. Kabeh kadang ingsun kang metu saka margo ino lan kang metu ora saka margo ino, Kabeh kadang ingsun kang ora katon lan ora karawatan), saya mau makan, bantulah saya-Aku arep mangan, ewang-ewangana. Artinya kita dibantu bisa makan dengan selamat dan makanan itu juga baik untuk kita.

·         Semua saudara halusku, bantulah saya untuk menyopir mobil ini dengan selamat sampai kantor. Artinya selama menyopir  selamat dan sampai kantor dengan lancar, tidak ada halangan ataupun kecelakaan.

·         Semua saudara halusku bantulah saya dalam bekerja, sehingga pekerjaan saya  lancar dan benar.


Perlindungan waktu tidur

Pada waktu mau tidur, kita tidak minta dibantu oleh saudara-saudara halus, nanti mereka ikut tidur, sesuatu yang mereka tidak perlukan, karena tidur bukan alam mereka.
Pada waktu mau tidur katakan dalam batin : Semua saudara halusku, saya mau tidur, lindungilah saya. Kalau ada yang mengganggu atau membahayakan, kamu tanggulangi atau bangunkan saya. (Kabeh sedulur alus ingsun, ingsun arep turu, reksanen ingsun sajerone turu, yen ana kang ngganggu utawa mbebayani, tandangana utawa gugahen ingsun). Sambil merebahkan badan ditempat tidur, sebelum menutup mata, letakkan tangan kanan didada menyentuh jantung, katakan dalam batin : Aku iyo urip – Saya juga hidup. Ini nasihat dan berdasarkan pengalaman para pinisepuh. Biasanya tidur jadi enak, selamat, bangun tidur badan terasa segar dan cerah.

 

 

Weton
Weton atau wetonan adalah peringatan hari lahir setiap 35-tiga puluh lima hari sekali. Untuk orang Jawa tradisonal sangat penting untuk mengetahui wetonnya, sesuai dengan kalender Jawa. Dengan mengetahui tanggal, bulan dan tahun kelahiran menurut kalender Masehi, bisa diketahui weton seseorang. Hari kelahiran menurut kalender Jawa atau weton terjadi setiap selapan hari artinya setiap 35 (tiga puluh lima hari). Ini merupakan gabungan antara Hari Tujuh, Senin sampai dengan Sabtu dan Hari Lima Jawa: Legi , Paing, Pon, Wage, Kliwon.
Jadi yang lahir hari Senin, bisa Senin Legi, Senin Paing, Senin Pon, Senin Wage, Senin Kliwon. Demikian pula yang lahir dihari-hari lain Selasa dan seterusnya.
Pada  setiap saat   weton dari seseorang, misalnya Jum’at Kliwon atau Sabtu Legi. Ini adalah saat yang tepat untuk mengingat kepada saudara-saudara halus kita semua. Pada saat wetonnya, sesudah jam enam sore, karena hari Jawa mengikuti kalender sistim rembulan, jadi mulainya sore hari, orang yang  punya weton malam itu akan mengingat saudara-saudara halusnya. Biasanya orang membuat bancakan (sesaji kecil). Ada yang membuat sego gudangan (nasi dengan lauk sayur)  atau bubur merah putih dan segelas air putih matang.

Secawan bubur merah putih  dan segelas air putih itu diujubke (diberikan) kepada semua saudara halus, dengan diletakkan diatas meja dan berkata dalam batin : Ini untuk semua saudara halusku, aku selalu ingat kalian, maka itu jagalah dan bantulah aku.

Pemberian bubur merah putih dan air putih dan ucapan tersebut, itu merupakan sesaji yang paling sederhana , tetapi mendasar. Karena inti sarinya mengenali dan menghargai semua saudara halus dan ingat kepada ibu dan bapak, kedua orang tua kita, menghormati kakek nenek yang telah menurunkan kita dan yang paling penting untuk memuja dan berterima kasih kepada Sang Pencipta Hidup, Allah Yang Maha Kuasa.

Pada waktu-waktu tertentu, orang melakukan peringatan weton dengan cara mengundang beberapa kerabat atau kenalan baiknya. Pada saat seperti itu, biasanya sesaji lebih komplit, termasuk nasi tumpeng dan lauk pauknya dsb. Sesudah diadakan doa bersama, dilanjutkan dengan menyantap hidangan.

 

Hubungan serasi

Bagi orang Jawa tradisional, sangat penting untuk mempunyai hubungan yang serasi (jumbuh) dengan saudara-saudara halus. Caranya, setiap bertindak ajaklah mereka, untuk minta dibantu atau dijaga. Sebelum hubungannya terasa serasi, akrab dengan mereka, setiap saat selalu panggilah mereka lengkap, satu per satu. Kalau sudah akrab, bisa dipanggil dengan : Semua saudara halusku, bantulah aku untuk …., jagalah aku selama ……dan sebagainya menurut kebutuhan.
Namun, pada saat yang penting atau untuk urusan penting , umpamanya untuk menemani sewaktu berdoa, meditasi atau semadi, adalah bijak untuk memanggil nama mereka secara lengkap, satu per satu.

Menurut pengalaman para pinisepuh, peranan Kakang Kawah dan Adi Ari-ari dalam membantu sangatlah penting. Sesuai dengan sifat alamnya, Kakang Kawah selalu berusaha dengan sebaik-baiknya membantu terjadinya semua keinginan dan usaha, sedangkan Adi Ari-ari selalu mendukung dan menyenangkan.
Ada kalanya atau ada orang yang setiap wetonnya, selama 24 Jam, sehari semalam melakukan laku prihatin, seperti berpuasa sehari semalam, tidak tidur sama sekali selama 24 jam atau tidur hanya sedikit sesudah tengah malam, berpasrah diri kepada Gusti. Hal ini untuk mengingatkan akan posisi dan tugas seorang titah. Bahwa hidup ini tidak untuk hanya makan sepuasnya dan mengutamakan tidur yang lama dan memenuhi kehendak keduniawiannya yang mengabdi kepada materi dan egonya tetapi manusia supaya ingat, akan posisinya dan tugasnya yang mulia untuk memayu hayuning sesami lan buwana (untuk membangun kehidupan antar sesama yang baik dan melestarikan buana), supaya mampu melaksanakan kehidupan didunia ini dengan baik, benar, sejahtera, bahagia lahir batin

Oleh: ki puser langit | Januari 10, 2010

Mitoni : Ritual untuk tujuh bulan kehamilan

Mitoni atau selamatan tujuh bulanan, dilakukan setelah kehamilan seorang ibu genap usia 7 bulan atau lebih. Dilaksanakan tidak boleh kurang dari 7 bulan, sekalipun kurang sehari. Belum ada neptu atau weton (hari masehi + hari Jawa) yang dijadikan patokan pelaksnaan, yang penting ambil hari selasa atau sabtu.  Tujuan mitoni atau tingkeban agar supaya ibu dan janin selalu dijaga dalam kesejahteraan dan keselamatan (wilujeng, santosa, jatmika, rahayu).

  

PERSYARATAN :

1.   Bubur 7 macam :

Kombinasi 7 macam; (1) bubur merah (2) bubur putih (3) merah ditumpangi putih, (4)  putih ditumpangi merah, (5) putih disilang merah, (6) merah disilang putih, (7) baro-baro (bubur putih diatasnya dikasih parutan kelapa dan sisiran gula jawa).

Bubur putih dimakan oleh sang Ayah. Bubur merah dimakan sang Ibu. Bubur yang lain dimakan sekeluarga.

Bahan: Bubur putih gurih (dimasak pake santen) dan bubur merah (dimasak pake gula jawa); Bubur ditaruh di piring kecil-kecil;

2.   Gudangan Mateng  (sayurnya direbus) :

Bahan ; Sayur 7 macam; harus ada kangkung dan kacang. Kangkung dan kacang  panjang jangan dipotong-potong, dibiarkan panjang saja. Semua sayuran direbus.

Bumbu gudangannya pedas.

3.   Nasi Megono ; Nasi dicampur bumbu gudangan pedes lalu dikukus.

4.   Jajan Pasar ; biasanya berisi 7 macam makanan jajanan pasar tradisional.

5.   Rujak ; bumbunya pedas dengan 7 macam buah-buahan.

6.   Ampyang ; ampyang kacang, ampyang wijen dll (7 macam ampyang). Apabila kesulitan mendapatkan 7 macam ampyang, boleh sedapatnya saja.

7.   Aneka Ragam Kolo ;

Kolo kependem (kacang tanah, singkong, talas), kolo gumantung (pepaya), kolo merambat  (ubi/ketela rambat); kacang tanah, singkong, talas, ketela, pepaya. direbus kecuali pepaya. Pepaya yang sudah masak. Masing-masing jenis kolo tidak harus semua, tetapi bisa dipilih salah satu saja. Misalnya kolo kependhem; ambil saja salah satu misalnya kacang tanah. Jika kesulitn mencari kolo yang lain; yang penting ada dua macam kolo ; yakni cangelo; kacang tanah  +  ketela (ubi jalar).

8.   Ketan ; dikukus lalu dibikin bulatan sebesar bola bekel (diameter 3-4 cm); warna putih, merah, hijau, coklat, kuning.

9.   Tumpeng nasi putih; kira-kira cukup untuk makan 7 atau 11, atau 17 orang.

10. Telur ; telur ayam 7 butir.

11. Pisang ; pisang raja dan pisang raja pulut masing-masing satu lirang/sisir.

12. Tumpeng tujuh macam warna; tumpeng dibuat kecil-kecil dengan warna yang berbeda-beda. Bahan nasi biasa yang diwarnai.

 

TATA CARA

Tumpeng ditaruh di atas kalo (saringan santan yang baru). Bawahnya tumpeng dialasi daun pisang. Di bawah kalo dialasi cobek agar kalo tidak ngglimpang. Sisa potongan  daun pisang diletakkan di antara cobek dan pantat kalo.

Sayur 7 macam direbus diletakkan mengelilingi tumpeng, letakkan bumbu gudangannya melingkari tumpeng juga. Telur ayam (boleh ayam kampung  atau ayam petelur) jumlahnya 7 butir, direbus lalu dikupas, diletakkan mengelilingi tumpeng. Masing-masing telur boleh di belah jadi dua. Pucuk tumpeng dikasih sate yang berisi ; cabe merah, bawang merah, telur utuh dikupas kulitnya, cabe merah besar, tancapkan vertikal. (urutan ini dari bawah ke atas; lihat gambar).

Tusuk satenya dari bambu, posisi berdiri di atas pucuk tumpeng; urutan dari bawah; cabe merah besar posisi horisontal, bawang merah dikupas, telur kupas utuh, bawang merah lagi, paling atas cabe merah besar posisi vertikal.

Pisang, jajan pasar, 7 macam kolo, dan 7 macam ampyang ditata dalam satu wadah tersendiri, namanya tambir atau tampah tanpa bingkai yg lebar.

Tambirnya juga yg baru, jangan bekas. Tampah “pantatnya” rata datar, sedangkan tambir pantatnya sedikit agak cembung.

Tumpeng tujuh macam warna ukuran mini, ditaruh mengelilingi tumpeng besar. Boleh diletakkan di atas sayuran yang mengelilingi tumpeng besar.

Setelah ubo rampe semua selesai disiapkan, maka dimulailah berdoa. Doa boleh dengan tata cara atau agama masing-masing. Inilah fleksibilitas dan toleransi dalam ajaran Jawa.

Berikut ini contoh doa menurut tradisi Jawa;

Diucapkan oleh orang tua jabang bayi (ayah dan ibu);

“Niat ingsun nylameti jabang bayi, supaya kalis ing rubeda, nir ing sambikala, saka kersaning Gusti Allah. Dadiyo bocah kang bisa mikul dhuwur mendhem jero wong tuwa, migunani marang sesama, ambeg utama, yen lanang kadya Raden Komajaya, yen wadon kadya Dewi Komaratih..kabeh saka kersaning Gusti Allah.  

Apabila orang tua beragama Islam, setelah doa secara tradisi, lalu bacakan surat Maryam atau surat Yusuf. Pilih di antara keduanya sesuai keinginan hati nurani. Jika feeling anda ingin membaca surat Maryam, biasanya jabang bayi lahir perempuan. Bila yang dibaca  surat Yusuf, biasanya jabang bayi lahir laki-laki.  

Dalam tradisi Jawa, yang membuat bumbu rujak dilakukan oleh ibu jabang bayi. Jika bumbunya rasanya asin, biasanya jabang bayi lahir perempuan. Bila tidak kasinen (kebanyakan garam), biasanya lahir laki-laki. 

Akan tetapi karna teknologi medis sudah sedemikian canggih, sampai ditemukan USG empat dimensi, jenis kelamin bayi sudah dapat diketahui lebih dini.  

Acara mitoni atau tingkeban yang dipaparkan di atas adalah tatacara sederhana. Akan tetapi bukan berarti tidak absah, hanya tidak lengkap saja. Sedangkan tatacara yang lengkap yang biasanya masih dilakukan di kraton-kraton dan masyarakat Jawa yang masih kuat memegang tradisi. Rangkaian acara untuk upacara mitoni secara lengkap urut-urutannya yaitu;

1.      Siraman ( pemandian calon ibu)

2.      Pendandanan calon ibu

3.      Angreman

Tempat, berbagai barang/ubarampe termasuk sesaji, hendaknya sudah tersedia lengkap

Upacara Siraman

Biasanya pelaksanaan siraman diadakan dikamar mandi atau ditempat khusus yang dibuat untuk siraman, dihalaman belakang atau samping rumah. Siraman berasal dari kata siram artinya mandi. Pada saat mitoni adalah pemandian untuk sesuci lahir batin bagi calon ibu/orang tua beserta bayi dalam kandungan. Yang baku, di tempat siraman ada bak/tempat air yang telah diisi air yang berasal dari tujuh sumber air yang dicampur dengan bunga sritaman, yang terdiri dari mawar,melati, kenanga dan kantil. Dipagi hari atau sore hari yang cerah, ada terdengar alunan suara gamelan yang semarak, mengiringi pelaksaan siraman.

Didepan tempat siraman yang disusun apik, duduk calon kakek, calon nenek dan ibu-ibu yang akan ikut memandikan.Mereka semua berpakaian tradisional Jawa, bagus, rapi. Tentu saja sisaksikan oleh para  undangan yang hadir untuk menyaksikan dan memberi restu kepada calon ibu. Calon ibu dengan berpakaian kain putih yang praktis, tanpa mengenakan asesoris seperti gelang, kalung, subang dsb, datang ketempat siraman dengan diiringi oleh beberapa ibu. Dia langsung didudukkan diatas sebuah kursi yang dialasi dan dihias dengan sebuah tikar tua, maksudnya orang wajib bekerja sesuai kemampuannya dan dedauanan seperti : opok-opok, alang-alang, oro-oro, dadap srep, awar-awar yang melambangkan keselamatan dan daun kluwih sebagai perlambang kehidupan yang makmur.

Orang pertama yang mendapat kehormatan untuk memandikan adalah calon kakek, kemudian calon nenek dan disusul oleh beberapa ibu yang sudah punya cucu. Sesuai kebiasaan, jumlah yang memandikan adalah tujuh orang. Diambil perlambang positifnya, yaitu tujuh, bahasa Jawanya pitu, supaya memberi pitulungan, pertolongan.

Sesudah selesai dimandikan dengan diguyur air suci, terakhir dikucuri air suci dari sebuah kendi sampai airnya habis. Kendi yang kosong dibanting ketanah. Dilihat bagaimana pecahnya. Kalau paruh atau corot kendi tidak pecah, hadirin ramai-ramai berteriak : Lanang! Artinya bayi yang akan lahir laki-laki. Apabila pecah, yang akan lahir wadon, perempuan.

Perlu diketahui bahwa suasana selama pelaksanaan siraman adalah sakral tetapi riang.

Pada masa kini, upacara siraman dipandu oleh seorang ibu yang profesional dalam bidangnya, disertai seorang M.C. sehingga upacara berjalan runut, lancar dan bagus.

 

Peluncuran tropong

Ada kalanya, sesudah selesai pecah kendi, sebuah tropong, alat tenun dari kayu diluncurkan kedalam  kain tekstil yang mempunyai tujuh warna. Ini perlambang kelahiran bayi dengan lancar dan selamat. Peluncuran tropong, pada masa kini jarang sekali dilakukan.

Siraman gaya Mataraman

Siraman gaya Mataraman atau Yogyakarta kuno, sekarang boleh dibilang tidak dilakukan lagi. Pada siraman tersebut yang dimandikan tidak hanya calon ibu, tetapi jugas calon ayah, secara berbarengan.

 

Pendandanan calon ibu

Di sebuah ruangan yang telah disiapkan untuk upacara pendandanan, beberapa ibu dengan disaksikan hadirin, mendandani calon ibu dengan beberapa motif kain batik dan lurik. Ada 6 (enam) motif kain batik, antara lain motif kesatrian, melambangkan sikap satria; wahyu tumurun, yaitu wahyu yang menurunkan kehidupan mulia, sidomukti, maksudnya hidup makmur, sidoluhur-berbudi luhur dsb.

Satu per satu kain batik itu dikenakan, tetapi tidak ada yang sreg, sesuai. Lalu yang ketujuh dikenakan kain lurik bermotif lasem, dengan semangat para hadirin berseru : Ya, ini cocok! Lurik adalah bahan yang sederhana tetapi kuat, motif lasem mewujudkan perajutan kasih yang bahagia, tahan lama. Begitulah perlambang positif dari upacara pendandanan.

Lurik yang dikenakan calon ibu tersebut diikat dengan tali yang terdiri dari benang dan anyaman daun kelapa. Tali itu dipotong oleh calon ayah dengan menggunakan sebilah keris yang ujungnya ditutup kunyit. Ini perlambang bahwa semua kesulitan yang dihadapi keluarga, akan diatasi oleh sang ayah.

Sesudah memotong tali, sang ayah mengambil tiga langkah kebelakang, membalikkan badan dan lari keluar. Ini melambangkan kelahiran yang lancar dan selamat, bagi bayi dan ibu.

 

Brojolan
Dua buah kelapa gading diluncurkan kedalam kain lurik yang dipakai calon ibu. Kedua kelapa tersebut jatuh diatas tumpukan kain batik. Ini juga menggambarkan kelahiran yang lancar dan selamat. Kedua buah kelapa gading itu diukir dengan gambar Dewi Ratih dan Dewa Kamajaya, sepasang dewa dewi yang cantik, bagus rupanya dan baik hatinya. Artinya tokoh, figur yang ayu, baik, luar dalam, lahir batin. Ini tentu dalam menjalani kehidupan kedua orang tua juga bersikap demikian, demikian pula anak yang dilahirkan, menjalani kehidupan yang baik,  berbudi pekerti luhur dan mapan lahir batin.

Calon ayah mengambil salah satu kelapa tersebut dan memecahnya dengan menggunakan golok.  Kalau kelapa itu pecah jadi dua, hadirin berseru : Wadon, perempuan. Kalau kelapa itu airnya menyembur keluar, hadirin berteriak riang : Lanang, lelaki. Anak yang dilahirkan putra atau putri, sama saja, tetap akan  diasuh, dibesarkan oleh orang tuanya dengan penuh kasih dan tanggung jawab. Kelapa yang satunya, yang masih utuh, diambil, lalu dengan diemban oleh calon nenek, ditaruh ditempat tidur calon orang tua.

 

Angreman

Angreman dari kata angrem artinya mengerami telur. Calon orang tua duduk diatas tumpukan kain yang tadi dipakai, seolah mengerami telur, menunggu waktu sampai bayinya lahir dengan sehat selamat. Mereka mengambil beberapa macam makanan dari sesaji  dan ditaruh disebuah cobek. Mereka makan bersama sampai habis. Cobek itu menggambarkan ari-ari bayi.

Perlu diperhatikan bahwa untuk ritual angreman gaya Yogyakarta, sesajinya tidak ada yang berupa daging binatang yang dipotong. Ini memperkuat doa kedua calon orang tua supaya bayi mereka lahir dengan selamat.

Kelapa dan tumpukan kain-kain itu  berada diatas tempat tidur kedua calon orang tua. Ini latihan kesabaran bagi keduanya sewaktu menjaga dan merawat bayi.
Dipagi harinya, calon ayah memecah kelapa tersebut. Ini biasanya yang terjadi. Tetapi kalau dipagi hari ada seorang wanita hamil meminta kelapa tersebut, menurut adat, kelapa itu harus diberikan. Lalu wanita dan suaminya yang akan memecah kelapa itu. Hal ini melambangkan bahwa dalam menjalani kehidupan, orang tidak boleh egois, mementingkan diri sendiri, saling menolong dan welas asih, haruslah diutamakan.

 

 

Asal usul Mitoni atau Tingkeban

Ritual mitoni atau tingkeban telah ada sejak zaman kuno. Menurut penuturan yang diceritakan secara turun temurun, asal usulnya sebagai berikut :

Sepasang suami istri, Ki Sedya dan Niken Satingkeb, pernah punya anak sembilan kali, tetapi semuanya tidak ada yang berumur panjang. Mereka telah meminta bantuan banyak orang pintar, dukun, tetapi belum juga berhasil. Karena sudah tak tahan lagi mengahadapi derita berat dan panjang, kedua suami istri itu memberanikan diri memohon pertolongan dari Jayabaya, sang ratu yang terkenal sakti dan bijak. Raja Jayabaya yang bijak dan yang sangat dekat dengan rakyatnya, dengan senang hati memberi bantuan kepada rakyatnya yang menderita. Beginilah sikap ratu masa dahulu.

Kedua suami istri, dinasihati supaya melakukan ritual, caranya : Sebagai syarat pokok, mereka harus rajin manembah kepada Gusti Allah, selalu berbuat yang baik dan suka menolong dan welas asih kepada sesama. Berdoa dengan khusuk, memohon kepada Tuhan. Mereka harus mensucikan diri, manembah kepada Allah,  dan mandi suci dengan air yang berasal dari tujuh sumber. Kemudian berpasrah diri lahir batin. Sesudah itu memohon kepada Gusti Allah,  apa yang menjadi kehendak mereka, terutama untuk kesehatan dan kesejahteraan si bayi. Dalam ritual itu sebaiknya diadakan sesaji untuk penguat doa dan penolak bala, supaya mendapat berkah Gusti Allah.

Rupanya, Allah memperkenankan permohonan mereka. Ki Sedya dan Niken Satingkeb mendapatkan momongan yang sehat dan berumur panjang. Untuk mengingat Niken Satingkeb, upacara mitoni juga disebut Tingkeban.

Oleh: ki puser langit | Januari 10, 2010

Budi Pekerti

 

Secara umum Budi Pekerti berarti moral dan kelakuan yang baik dalam menjalani kehidupan ini.

Ini adalah tuntunan moral yang paling penting untuk orang Jawa tradisional. Budi Pekerti adalah induk dari segala etika, tata krama, tata susila, perilaku baik dalam pergaulan, pekerjaan dan kehidupan sehari-hari. Pertama-tama budi pekerti ditanamkan oleh orang tua dan keluarga dirumah, kemudian di sekolah dan tentu saja oleh masyarakat secara langsung maupun tidak langsung.

Pada saat ini di mana  sendi-sendi kehidupan banyak yang goyah karena terjadinya erosi moral, budi pekerti masih relevan dan perlu direvitalisasi. Budi Pekerti yang mempunyai arti yang sangat jelas dan sederhana, yaitu : Perbuatan (Pekerti) yang dilandasi atau dilahirkan oleh Pikiran yang jernih dan baik (Budi).

Dengan definisi yang teramat gamblang dan sederhana dan tidak muluk-muluk,  kita semua dalam menjalani kehidupan ini semestinya dengan mudah dan arif dapat menerima tuntunan budi pekerti.

Budi pekerti untuk melakukan hal-hal yang patut, baik dan benar.Kalau kita berbudi pekerti, maka jalan kehidupan kita paling tidak tentu selamat, sehingga kita bisa berkiprah menuju ke kesuksesan hidup, kerukunan antar sesama dan berada dalam koridor perilaku yang baik.

Sebaliknya, kalau kita melanggar prinsip-prinsip budi pekerti, maka kita akan mengalami hal-hal yang tidak nyaman, dari yang sifatnya ringan, seperti tidak disenangi/ dihormati orang lain, sampai yang berat seperti : melakukan pelanggaran hukum sehingga bisa dipidana.

 

Penanaman Budi Pekerti

Esensi Budi Pekerti, secara tradisional mulai ditanamkan sejak masa kanak-kanak, baik dirumah maupun disekolah, kemudian berlanjut dalam kehidupan dimasyarakat.

 

Dirumah dan keluarga

Sejak masa kecil dalam bimbingan orang tua, mulai ditanamkan pengertian baik dan benar seperti etika, tradisi lewat dongeng, dolanan/permainan anak-anak yang merupakan cerminan hidup bekerjasama dan berinteraksi dengan keluarga dan lingkungan.

Berperilaku yang baik dalam keluarga amat penting bagi pertumbuhan sikap anak selanjutnya. Dari kecil sudah terbiasa menghormat orang tua atau orang yang lebih tua, misalnya : jalan sedikit membungkuk jika berjalan didepan orang tua dan dengan sopan mengucap : nuwun sewu (permisi), nderek langkung (perkenankan lewat sini).

Selain berperilaku halus dan sopan, juga berbahasa yang baik untuk menghormati sesama, apakah itu bahasa halus ( kromo) atau ngoko ( bahasa biasa). Bahasa Jawa yang bertingkat bukanlah hal yang rumit, karena unggah ungguh basa( penggunaan bahasa menurut tingkatnya) adalah sopan santun untuk menghormat orang lain.

 

Bahasa kromo dan ngoko

Pada dasarnya ada dua tingkatan dalam bahasa Jawa,yaitu : Kromo, bahasa halus dan ngoko, bahasa biasa. Bahasa kromo dipakai untuk menghormat orang tua atau orang yang perlu dihormat, sedangkan ngoko biasanya dipakai antar teman.
Semua kata yang dipakai dalam dua tingkat bahasa tersebut berbeda, contoh :

Bahasa Indonesia : Saya mau pergi.

Kromo                   : Kulo bade kesah.

Ngoko                   : Aku arep lunga.

Dalam percakapan sehari-hari, orang tua kepada anak memakai ngoko, sedang anaknya menggunakan kromo. Dalam pergaulan dipakai pula bahasa campuran yang memakai kata-kata dari kromo dan ngoko dan ini lebih mudah dipelajari dalam praktek dan sulit dipelajari secara teori.

 

Ora ilok, suatu kearifan

Orang tua zaman dulu sering bilang : ora ilok,artinya tidak baik, untuk melarang anaknya.Jadi anak tidak secara langsung dilarang, apalagi dimarahi.Ungkapan tersebut dimaksudkan , agar si anak tidak melakukan perbuatan yang tidak sopan atau mengganggu keharmonisan alam. Misalnya ungkapan : Ora ilok ngglungguhi bantal, mengko wudhunen (Tidak baik menduduki bantal , nanti bisulan). Maksudnya supaya tidak menduduki bantal, karena bantal itu alas kepala. Meludah sembarang tempat atau membuang sampah tidak pada tempatnya, juga dibilang ora ilok, tidak baik. Tempo dulu, orang tua enggan menjelaskan, tetapi sebenarnya itu merupakan kearifan. Lebih baik melarang dengan arif, dari pada dengan cara keras.

 

Tembang yang bermakna

 Pada dasarnya, pendidikan informal dirumah, dikalangan keluarga adalah ditujukan kepada harapan terbaik bagi anak asuh. Coba perhatikan ayah atau ibu yang meninabobokkan anak dengan kasih sayang melantunkan tembang untuk menidurkan anak , isinya penuh permohonan kepada Sang Pencipta, seperti tembang : Tak lelo-lelo ledung, mbesuk gede pinter sekolahe, dadi mister, dokter, insinyur. ( Sayang, nanti sudah besar pintar sekolahnya, jadi sarjana hukum, dokter atau insinyur).

Atau doa dan  permohonan yang lain : Mbesuk gede, luhur bebudhene,jumuring ing Gusti, angrungkubi nagari ( Bila sudah dewasa terpuji budi pekertinya, mengagungkan Tuhan dan berbakti kepada negara).

Pendidikan tradisional zaman dulu mengandung kesabaran, nerimo ing pandhum, pasrah, ayem tentrem, tansah eling marang Pangeran (selalu dengan sabar menerima dan mensyukuri pemberian Tuhan, pasrah. Pengertian pasrah adalah tekun berusaha dan menyerahkan keputusan kepada Tuhan.Hati tenang tentram, selalu ingat kepada Tuhan).Perlu digaris bawahi bahwa kepercayaan orang Jawa tradisional kepada Tuhan itu sudah mendarah daging sejak masa kuno, sehingga anak-anak Jawa sejak kecil sudah sering mendengar kata-kata orang tua : Kabeh sing neng alam donya iku ana margo kersaning Gusti. (Semua yang ada didunia ini ada karena kehendak Tuhan).Sehingga bagi orang Jawa tradisional, apapun yang terjadi, akan selalu pasrah dan mengagungkan Gusti/Tuhan. Itu sudah menjadi watak bawaan yang mendarah daging.

Biasanya ketika anak mulai berumur lima tahunan, secara naluri mulai diterapkan ajaran unggah-ungguh, sopan santun, etika, menghormati orang tua dan orang lain. Inkulturisasi, penanaman etika ini sangat penting karena menjadi dasar supaya si anak hingga dewasa dapat membawa diri dan diterima dalam pergaulan dimasyarakat, mampu bersosialisasi dan punya budaya malu. Punya sikap mendahulukan kepentingan orang lain, peka dan peduli kepada sekeliling dan lingkungan. Punya kebiasaan hidup rukun dan damai, penuh kasih sayang dan hormat dilingkungan keluarga dan masyarakat. Penanaman sikap sejak dini ini penting karena akan merasuk dalam rasa, sehingga kepekaannya tidak mudah hilang.

Peduli Lingkungan

Pendidikan yang mengarah kepada peduli dan kasih terhadap lingkungan dan alam, juga sudah dimulai sejak usia belia.Anak-anak diberi pengertian untuk tidak bersikap sewenang-wenang kepada binatang dan tanaman dan juga menjaga kebersihan alam, tidak merusak alam.

Anak kecil yang dirumahnya punya binatang peliharaan seperti anjing, kucing, burung, selalu diberitahu oleh orang tuanya untuk merawat nya dengan baik, memberi makan yang teratur, dijaga kebersihannya, kandangnya juga bersih  dan tidak boleh diperlakukan dengan sewenang-wenang dan justru harus dilindungi dan dikasihi.

Tanaman dan pepohonan juga harus dirawat dengan baik, disiram setiap sore, kadang-kadang diberi pupuk, dijaga supaya tumbuh subur dan sehat dan cantik penampilannya ,sehingga enak dipandang.

Tanaman yang dirawat akan membalas kebaikan kita, daunnya, , bunganya, buahnya, kayunya, akarnya, bisa memberi faedah yang berguna.

Bumi tempat kita berpijak, juga harus dilindungi, diurus yang baik, jangan asal saja menggali-gali tanah ,kalau memang tidak ada tujuan yang bermanfaat.Sumber air juga harus dijaga, tidak boleh dikotori.

Prinsipnya, kita harus dengan sadar dan sebaik-baiknya merawat, menggunakan dan mensyukuri semua pemberian alam dan Sang Pencipta.

 

Pendidikan formal

Selain pendidikan non-formal yang berkembang dan berpengaruh positif, pendidikan formal tentu saja mempunyai peran sangat penting.Anak dididik supaya cerdas dan punya budi pekerti.
Sejak ditaman bermain/Play group, TK,SD, anak diperkenankan  dan dibiasakan bersosialisasi, ditanamkan etika, sopan santun, kebersihan, rasa kebersamaan, rasa kebersamaan dialam sebagai satu kesatuan kosmos, ditanamkan rasa solidaritas dan kasih sayang demi keselarasan, keseimbangan dan perdamaian.

Tentu juga diajarkan nilai-nilai luhur yang terdapat dalam tradisi dan adat istiadat.

Dimasa penjajahan dulu, sekolah-sekolah pribumi seperti Taman Siswa, menanamkan pendidikan yang penuh dengan semangat juang dan nasionalisme, persatuan dan kesatuan dalam melawan penjajah.

 Etika Pergaulan

Sebagai bangsa yang berbudaya, sebaiknya semua pihak menampilkan sikap yang santun dalam pergaulan, membuat orang lain senang, dihargai. Orang itu senang bila dihargai, disapa dengan kata-kata yang baik, termasuk wong cilik, orang ekonomi lemah.Wong cilik akan santun kepada orang yang menghargai mereka. Orang santun, meski derajatnya tinggi, tidak sombong, ini orang yang berbudaya.Orang yang berperilaku baik, berbahasa baik, berbudi baik, selain dihargai orang lain, secara pribadi juga untung, yaitu akan mengalami peningkatan taraf kejiwaannya, mengalami kemajuan batiniah.

 

Pelajaran dari cerita wayang

Cerita yang bersumber dari pewayangan juga penting untuk pendidikan budi pekerti secara umum.
Bagi orang Jawa tradisional, apa yang dikisahkan dalam wayang adalah merupakan cermin dari kehidupan, oleh karena itu wayang sangat populer di Jawa sampai saat ini.

Pelajaran yang bisa ditarik dari pewayangan adalah , antara lain :

1.      Didunia ini ada baik dan jahat, pada akhirnya yang baik yang menang, tetapi setiap saat yang jahat akan berusaha untuk menggoda lagi.

2.      Ikutilah contoh dari sikap hidup Pandawa, lima satria putra Pandu yaitu Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa dan satria-satria yang lain yang mempunyai watak luhur, jujur, sopan. Mereka berjuang demi kebenaran, untuk kesejahteraaan rakyat dan negara. Mereka dengan tekun dan ikhlas mendalami spiritualitas, kebatinan. Mereka menggunakan kemampuan, kesaktiannya untuk tujuan yang mulia. Satria itu orang yang berbudi pekerti, berwatak luhur dan bertanggung jawab.

3.      Jangan mencontoh sikap para Korawa,seratus orang putra Destarata,yaitu Duryudana dan adik-adiknya beserta kroni-kroninya. Mereka itu tidak jujur, serakah mencari kekayaan materi dan kekuasaan, sikapnya kasar, tidak sopan, culas.Mereka digambarkan sebagai raksasa. Raksasa dalam bahasa Jawa adalah Buto artinya buta, tidak bisa membedakan yang baik dan yang jahat, yang salah dan yang benar.

4.      Dari epoch Ramayana, Prabu Rama, Anoman dan anah buahnya punya watak satria luhur, sebaliknya Rahwana, Sarpakenaka adalah raksasa-raksasa yang rakus dan keji, tanpa rasa kemanusiaan.

5.      Penghuni Alam Raya ini tidak hanya manusia, hewan dan mahluk yang kasat mata, tetapi juga ada mahluk-mahluk lain yang biasanya disebut mahluk halus, ada yang baik dan ada yang jahat wataknya.

6.      Ada alam Kadewatan yang dihuni dewa dewi yaitu di Kahyangan. Penguasa Jagat Raya adalah Sang Hyang Wenang yang dalam pelaksanaannya memberi wewenang kepada Batara Guru.

7.      Dalam hidupnya manusia selalu mensyukuri berkah dan anugerah Tuhan, selalu berdoa dan mengagungkan Tuhan, Sang Pencipta.Garis kehidupan manusia sesuai ketentuan yang diketahui dan diizinkan Tuhan.Titah bisa berkomunikasi dengan Sang Penguasa Jagat Raya, Tuhan melalui perantaraan dewa dewi ataupun secara langsung. Ini tentu merupakan anugerah Gusti kepada titahnya yang terpilih, tidak sembarang orang.Pemberitahuan Ilahi juga bisa diterima melalui wahyu secara langsung ataupun lewat mimpi.Dalam cerita wayang, seseorang bisa dikontak oleh utusan Kahyangan setelah bertapa ditempat yang sepi untuk beberapa saat(.Dewa-dewi dalam pengertian lain bisa disebut  Malaikat atau Angels).  

8.      Manusia yang sudah diberi kesempatan untuk menjalani kehidupan dibumi ini oleh Sang Pencipta, tidak layak kalau menyia-nyiakan hidupnya. Dia harus menjadi manusia yang berbudi pekerti, melaksanakan darma anak manusia untuk memayu hayuning bawana . ( Melestarikan bumi dan mempercantik kehidupan dibumi.)               

                                                                            .
Legenda –legenda tanah Jawa menggambarkan :

1.      Adanya raja-raja dan penguasa yang adil dan tidak adil;ada yang baik, bijak, tetapi ada juga yang bengis dan kejam.’

2.      Kejujuran dan kelicikan.

3.      Pahlawan dan pengkhianat

4.      Negeri aman, adil makmur dan negeri yang serba semrawut dan kacau.

5.      Kekuasaan untuk rakyat dan penyalahgunaan kekuasaan. 

6.      Masyarakat adil makmur tata tentram kerta raharja adalah suasana kehidupan masyarakat yang didambakan orang Jawa.


Tatakrama dan Tata Susila

Tatakrama dan Tata Susila juga tak terlepas dari budi pekerti. Berlaku sopan, bertatakrama yang meliputi sikap badan, cara duduk, berbicara dll. Misalnya dengan orang tua berbahasa halus/kromo, dengan teman berbahasa ngoko. Bahasa Jawa memang unik, dengan mudah bisa menunjukkan sifat tatakrama seseorang.

Menghormati orang tua, guru, pinisepuh adalah wajib, tetapi tidak berarti yang muda tidak dihormati. Hormat kepada orang lain itu satu keharusan.

Itu kesemuanya termasuk dalam Tata Susila- etika moral, yang juga meliputi :

1.      Jujur, tidak menipu, welas asih kepada sesama. Berkelakuan baik tidak melakukan Mo Limo, yaitu : Main/berjudi; madon/ main perempuan atau selingkuh;mabuk karena minuman keras;madat menggunakan narkoba dan maling .Tentu saja tindakan jahat yang lain seperti membunuh, menista, mengakali,memeras, menyuap, melanggar hukum dan berbuat kejam ,harus tidak dilakukan.

2.      Berperilaku baik dengan menghindari perbuatan salah, supaya nama baik tetap terjaga dan supaya tidak kena malu.Terkena malu bagi orang Jawa tradisional adalah kehilangan kehormatan.Ada pepatah Jawa menyatakan : Kehilangan  semua harta milik itu tidak kehilangan apapun; kehilangan nyawa artinya kehilangan separoh hidup kita; tetapi kalau kehilangan kehormatan artinya kehilangan semuanya.

3.      Memelihara kerukunan, bebas dari konflik diantara keluarga, tetangga, kampung, desa, selanjutnya ditingkat negara dan dunia, dimana hubungan harmonis antar manusia teramat penting. Kerusakan dan kekacauan yang timbul didunia ini, yang paling besar adalah dikarenakan oleh sikap manusia’Ingatlah pepatah : Rukun agawe santoso artinya : Rukun membuat kita sehat kuat.

4.      Bersikap sabar, nrimo artinya menerima dengan ikhlas dan sadar jalan kehidupan kita dan tidak perlu iri kepada sukses orang lain Ingin hidup sukses harus berusaha dengan keras dan rajin dan mohon restu Tuhan, hasilnya terserah Tuhan.

5.      Tidak bersikap egois yang hanya mementingkan diri sendiri. Ada petuah : Sepi ing pamrih, rame ing gawe.artinya bertindak tanpa pamrih dan selalu siap bekerja demi kepentingan  masyarakat dan kesejahteraan umat.Sikap yang demikian ,mudah menimbulkan tindakan ber-gotong royong, baik dalam lingkungan kecil maupun besar.

6.      Gotong Royong adalah kerjasama saling membantu dan hasilnya sama-sama dinikmati. Ini bisa berlaku diskop kecil seperti antar tetangga kampung yang merupakan kebiasaan yang sudah berjalan sejak masa kuno. Yang digotong royongkan antara lain : sama-sama membersihkan jalan desa, memperbaiki pra sarana seperti jalan desa, saluran air, balai desa dsb.Ada juga yang bergotong royong ramai-ramai membangun rumah seorang warga dll. Jadi pada intinya gotong royong adalah kerjasama antar beberapa pihak yang menghasilkan nilai lebih dipelbagai bidang yang dikerjakan bersama tersebut. Dasar gotong royong adalah sukarela dan untuk kepentingan bersama yang meliputi bidang-bidang perawatan, pembangunan, produksi dll.Tiap peserta akan menangani bidang pekerjaan yang merupakan kemahirannya dan itu akan bersinerji dengan ketrampilan peserta lain dan “proyek” akan berjalan lancar.Berdasarkan pengalaman yang sukses dari gotong royong lingkup kecil,  gotong royong bisa dipraktekkan berupa sinerji yang berskala nasional, regional ,bahkan internasional.

Kembali ke Budi Pekerti

Pada saat keprihatinan melanda kehidupan dinegeri tercinta ini dan itu sebab pokoknya adalah kemerosotan moral dan hukum yang sulit ditegakkan , kebenaran diplintir , rasa malu hilang entah kemana, mana yang  baik mana yang buruk dikaburkan, tata susila tak diperhitungkan.Lalu dimana pula kejujuran?Yang lagi ngetrend pada saat ini adalah janji-janji, terutama janjinya  para politikus.  Ini katanya zaman krisis multi dimensi, kalau orang dulu bilang  : Ini zaman edan !

Dalam keadaan sulit seperti apapun, tentu ada jalan keluarnya, tidak semua orang bersifat jelek, tidak semua pemimpin  lupa diri, ada masih anak bangsa yang berkwalitas, jujur, pandai, trampil, trengginas,berani hidup sederhana, dalam perilaku dan tindakannya didasari nurani dan berkah Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang . Inilah anak bangsa, satria bangsa yang mumpuni dan akan mrantasi gawe, mengentaskan bangsa dan negara ini dari keterpurukan dan membawa kekehidupan yang lebih baik , sejahtera, aman, adil dan makmur.

Kalau kita merenung dengan hening, berbicara dengan nurani, tiada  sedikit keraguan bahwasanya Budi Pekerti yang sarat dengan ajaran luhur moral dan etika dan kepasrahan kepada Tuhan, merupakan resep mujarab supaya bangsa dan negara terlepas dari segala keruwetan yang dihadapi ( Ngudari ruwet rentenge bangsa lan negara ). 

Krisis yang dihadapi akan ditanggulangi dengan baik bila kita semua, terutama mereka yang menjadi pemimpin, priyayi, birokrat, dengan sadar dan mantap, melaksanakan semua tindakan dengan dasar budi pekerti.

Budi Pekerti yang merupakan kearifan lokal, pada dasarnya mengandung nilai-nilai universal.
Budi Pekerti akan membangkitkan kepribadian yang berkwalitas : tanggap ( peka), tatag ( tahan uji), dan tanggon ( dapat diandalkan).

Oleh: ki puser langit | Januari 9, 2010

Mencari Pengertian Bab : CARA MEMPEROLEH BUDI PEKERTI LUHUR

 

Jalan untuk memperoleh budi pekerti luhur itu ada tiga macam :

Pertama :

Karena dari limpahan rahmat dan pemberian Allah, yang berupa budi luhur bawaan dari lahir (gawan lair). Sempurna dalam fitrah kejadiannya. Ditakdirkan langsung menjadi manusia yang mempunyai budi luhur.

Kedua :

Karena dari latihan, dengan menggunakan ajaran dari agama dan akal

Ketiga :

Karena dari pergaulannya dengan orang-orang yang baik budinya.

Kebalikannya : budi asor (kurang baik / hina) ada juga yang asalnya dari pembawaan lahir (gawan lair); ada yang dari kebiasaan; dan ada yang dari pergaulan.

Orang yang telah ditaqdirkan  memiliki budi pekerti luhur, mudah saja baginya dalam membatasi amarah dan syahwatnya, dan dikendalikan oleh akal pikiran dan ajaran agama. Hal yang demikian ini bisa dinamakan “bakat”.

Pada umumnya kita memiliki budi luhur  karena dari latihan dan pergaulan.

Apakah budi luhur itu bisa diperoleh dengan sarana latihan? Untuk menjelaskan hal tersebut, ada baiknya kita perhatikan beberapa contoh berikut ini :

1. Orang yang berkeinginan untuk menjadi seorang dermawan, yang suka bersedekah dan memberi pertolongan. Ia perlu punya pegertian, bahwa orang bisa dinamakan sudah mapan dalam sifat dermawan jika ia dalam bersedekah dan menolong tersebut didasari rasa ringan tangan dan hati. Tujuan dari pemberian sedekah tersebut tidak didorong oleh watak boros dan karena takut dijuluki sebagai seorang yang pelit/kikir (cethil). Ia bisa menempatkan diri di tengah-tengah antara boros dan cethil tadi.

Pada umumnya orang yang memiliki watak dermawan tersebut adalah orang yang masih ketempatan “rumangsa cethil” (merasa pelit). Kesadaran “rumangsa cethil” itulah yang bisa digunakan sebagai senjata pamungkas dan aweh pameksa marang jiwane dhewe (pemaksa terhadap jiwanya) agar menjalankan apa yang sudah diperintahkan jiwa (hati nurani) untuk bisa berderma hingga bisa ngrasakake marem lan seneng yen bisa wehweh  (puas dan senang bisa berderma).

2. Orang yang berkeinginan untuk menjadi seorang yang andhap asor (rendah hati),  perlu memiliki kesadaran tentang apa yang akan didapatkan oleh orang-orang yang sombong, takabur dan sering ngawur (membabi buta). Caranya yaitu melatih diri dengan jalan menceburkan diri dalam pergaulan dengan orang-orang yang ahli andhap asor. Tidak hanya seminggu dua minggu, tetapi tahunan dan atau dalam waktu yang sangat lama. Ia harus memaksakan jiwanya hingga sampai dengan bahwa andhap asor itu menjadi wataknya.

Dengan cara menjalani apa yang sudah diutarakan dalam contoh-contoh di atas, kita bisa merasakan :

         Perbedaan suasana hati ketika dulu masih ketempatan rasa cethil dan sekarang setelah berhasil membuang rasa cethil tersebut. Dulu ada rasa owel (tidak ikhlas), sekarang berubah menjadi rasa puas dan bahkan rindu untuk selalu bisa berderma.

         Perbedaan suasana hati ketika dulu masih ketempatan rasa sombong, takabur dan ngawur dengan sekarang setelah “nglakoni andhap asor”. Dulu hawanya hanya ingin marah melulu dan sekarang sudah bisa sabar jembar dhadhane (lebar dada), tulus ikhlas menjadi orang yang  sama dengan yang lainnya (yaitu orang yang dulunya ia anggap sebagai orang yang hina semua)

Selain itu sekarang bisa memiliki rasa “ora seneng” jika ada orang yang cethil/kikir; dan “ora seneng” jika ada orang yang sombong. Padahal dulu kita sering mendukung jika ada orang yang memakai kedok “hemat” sebagai cara untuk menutupi watak kikirnya tadi. Dulu kita juga sepaham dengan orang yang menggunakan alasan “menjaga kehormatan diri” sebagai cara untuk menutupi watak sombong, menjaga prestise katanya.

Bergaul dengan saudara, teman dan tetangga yang memiliki budi luhur yang dialami dari kecil, ketika muda, sampai di hari tuanya, dengan tidak kita sadari pergaulan yang baik itu bisa menulari diri kita sampai menjadi terbiasa “nindakake kautaman” (menjalankan keutamaan), yang karena budi luhur selalu terbangun dalam hati kita.

Ada saja dalam bermasyarakatorang yang memiliki sifat sok-sok tuwuh watak asore, dan sok-sok berubah menjadi wong sing utama. Yang demikian itu menggambarkan adanya “derajat peralihan” antara budi asor dan budi luhur. Wataknya masih miyar-miyur atau plin-plan.

Untuk memperkuat keyakinan bahwa budi asor perlu segera kita buang dan budi luhur segera kita jalani (tanpa diundur-undur lagi), kita perlu tansah eling (selalu ingat) pada perintah Allah : “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula”. (Al Zalzalah 99 : 7-8)

 

puserlangit

Oleh: ki puser langit | Januari 8, 2010

Amrih Rahayu Ing Akherat : “SIAP WAFAT”

Pengetahuan tentang mati yang benar sangatlah kita butuhkan, karena di setiap saat bisa saja kematian itu datang menjemput kita. Dengan demikian, laku batin kita bisa kita laksanakan, selain agar kita bisa menjalani hidup dengan baik dan benar, juga bisa menjalani saat kematian (wafat) yang penuh sih piwelas dan nugrahane Gusti Allah.

Kembali ke Alam Kelanggengan (Abadi)

A. Fungsi rasa percaya

Alam langgeng (abadi) yang dialami oleh manusia sesudah mati, itu dinamakan surga dan neraka. Kata surga dan neraka jangan dikira bahwa kata tersebut berasal dari bahasa Arab. Sama sekali bukan. Dalam agama Islam yang digunakan kata “Taman” (gambaran surga), dan kata “geni (api)” (gambaran neraka). Sebelum Nabi Muhammad SAW datang membawa Islam, kedua kata ssurga dan neraka tersebut sudah ada, dan sudah menjadi pengertian umum. Apakah kata surga dan neraka tersebut berasal dari bahasa Jawa Kuno, bahasa Sansekerta, atau bahasa yang lebih tua (kuno) lagi, penulis tidak paham.

Yang jelas, di dalam alam neraka manusia “padha ngunduh wohing budi lan panggawene sing kurang becik nalika urip ing ndonya” (manusia memetik buah dari perbuatan yang tidak baik ketika hidup di dunia), dan di dalam swarga (surga) “padha ngundhuh pakarti lan budine kang utama nalika ana ndonya” (memetik buah dari segala amal kebaikan ketika hidup di dunia.

Apakah surga dan neraka itu benar-benar ada?

Pertanyaan ini (jika benar-benar ada yang menanyakan hal ini), maka janganlah kita anggap remeh dan kita tertawakan. Adanya pertanyaan seperti itu karena memang dari hati yang benar-benar ingin mendapatkan kepastian jawaban tentang ada dan tidaknya surga dan neraka tersebut.

Untuk menjawab pertanyaan seperti tersebut di atas, maka bisa kita bandingkan dengan pertanyaan : apakah bakteri itu ada? Apakah virus itu ada? Nah, yang bisa menjawabnya dengan benar tentu saja hanyalah para ahli atau ilmuan yang pernah menggunakan peralatan khusus misalnya mikroskop. Jika orang awan yang belum pernah menggunakan mikroskop, maka mereka akan menjawabnya dengan jawaban: kata Doktor yang menulis buku “A”, atau yang meberikan kuliah di fakultas “A”, bakteri dan virus itu ada dan deskripsinya “seperti ini”. Sehingga sang Doktor tadi kemudian dijadikan Sumber yang dapat dipercaya, karena keahliannya.

Kita juga bisa menggunakan perbandingan lain dengan pertanyaan : apakah molekul, elektron, proton atau neiutron ada dan bagaimana rupa/wujudnya? Sarjana Fisika yang yang belum pernah melihat wujud dari elektron, juga hanya akan menggunakan Penemuan Ahli Nuklir Yang Terpercaya untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Dari kedua contoh tersebut di atas, dapat kita peroleh pengalaman, bahwa peraga umum atau peraga ahli, jika belum mengalami melihat atau mendengar sendiri, maka mereka akan berpedoman pada penemuan orang lain yang dianggap bisa dipercaya. Jadi kemudian semuanya mempunyai sifat Percaya begitu saja pada orang yang dianggap bisa dipercaya, dan tidak mempunyai kemampuan untuk menguji bab benar dan salah tentang anggapan atau penemuan tadi.

Kenyataan seperti ini jika dirasakan memang pahit. Tetapi nyatanya : banyak sekali bab-bab yang prinsip atau bab-bab yang tidak prinsip, yang menurut kita tidak bisa memilih selain hanyalah percaya atau tidak. Sebagaimana kedua contoh yang telah diutarakan di atas, kita hanya tinggal mempercayai saja bahwa bakteri dan virus itu ada (saya percaya memang ada), proton dan elektron itu ada (saya percaya memang ada). Atau kita bisa memilih : saya tidak percaya bahwa bakteri, virus, proton dan elektron itu ada karena saya belum pernah melihatnya sendiri.

Lalu apakah kalimat “saya tidak percaya karena belum melihatnya sendiri” ini bisa digunakan sebagai pedoman yang sifatnya mutlak (absolut) dalam hidup kita? Mari kita gali :

Saya tidak percaya jika kutub Utara dan kutub Selatan itu ada karena saya belum pernah melihatnya sendiri. Saya tidak percaya jika Tokyo, Moskow, Amsterdam, Kairo, New York dan Manila itu ada karena saya belum pernah melihatnya sendiri. Saya tidak percaya jika Surabaya itu ada, karena saya belum pernah melihatnya sendiri. Saya tidak percaya jika percetakan itu ada karena saya belum pernah melihat percetakan itu wujudnya seperti apa.

Sikap “tidak percaya karena belum melihat sendiri” yang sampai sebegitu ukurannya, bisa jadi dalam kehidupan tidak ada. Tetapi bisa saja ada, karena manusia itu beraneka ragam pola pikirnya.

Sikap seperti itu tadi jika lebih dalam lagi bisa sampai dalam tataran : “Aku”nya jasadku itu sesungguhnya apakah betul-betul ada, wong aku juga belum pernah melihat. Dan jika “aku”nya jasadku itu sesungguhnya tidak ada, lalu “aku” ini siapa dan bagaimana? Dan jika betul ada, lalu “aku” ini siapa dan bagaimana?

Pak Ahmad punya “aku”, bu Ahmad punya “aku”, anak-anakku juga punya “aku” sendiri-sendiri; “aku” yang begitu banyaknya tadi sebenarnya “apa, siapa dan bagaimana?”. Kesemuanya tadi apakah mandiri sendiri-sendiri. Apakah menunjukkan “kesatuan” seperti halnya hawa di dalam kendhi (wadah minuman), hawa di dalam sumur, hawa di dalam perut hewan, dan lain sebagainya. Dari kesekian hawa tersebut kan juga sama dengan hawa yang ada di halaman, di dalam rumah, di angkasa? Apakah “aku” yang ada dalam diri berbagai macam peraga tadi sama keadaannya dengan hawa yang ada di dalam beraneka macam barang? Lalu jika misalnya sama, apakah “aku” yang sudah lepas dari raga/jasad (mati) kemudian berkumpul lagi dengan “kesatuannya aku” seperti halnya kendhi jika pecah, botol jika pecah, sumur jika diurug, hawanya kemudian berkumpul lagi dalam “kesatuannya hawa”, yaitu angkasa?

Menghadapi berbagai macam pertanyaan yang sepertinya sepele itu, ternyata persoalannya tidak malah menjadi gamblang namun sebaliknya justru menjadi rumit, dan membingungkan. Dapat dikatakan kita masuk jalan buntu.

Apa sebabnya kok kita tidak bisa mendapatkan jawaban yang melegakan hati? Penyebabnya bermacam-macam :

1. Kita hanya menggunakan dasar percaya pada apa saja yang sudah dilihat atau dialami sendiri, selain itu tidak ada yang dipercaya.

2. Kita hanya menggunakan pancadriya dan nalar (akal, pikiran, reasoning) sebagai sarana untuk memahami keadaan dan apa saja; kita sama sekali tidak menggunakan “mata hati” (weruhe ati), “telinga hati” (pangrungune ati), dan potensi-potensi hati yang lain, sebab potensi hati tadi tidak bisa dibuktikan secara “ilmiah” atau “kenyataan (kasunyatan)”.

3. Dan karena kita tidak pernah menggunakan potensi hati, dan juga kita tidak mau percaya terhadap apa yang tidak kita alami sendiri, lalu kita susah sekali jika diajak percaya pada bab-bab yang sifatnya ghaib, misalnya saja adanya wahyu, adanya ilham, adanya malaikat, adanya setan dan jin, adanya roh suci, adanya surga dan neraka.

Orang yang mempunyai keyakinan “mau percaya hanya jika sudah mengalami atau melihat sendiri” jika salah kedaden bisa terperosok dalam alam pikiran yang gelap sekali, yaitu jika sampai tidak percaya  lagi jika bapak dan ibunya itu benar-benar bapak dan ibu yang menjadi “lantaran” kelahirannya di dunia. Dia juga bisa terperosok dalam pertanyaan : “apakah betul kedua orang tua itu bapak dan ibu yang sudah melahirkan aku, karena aku tidak bisa menyaksikannya sendiri?”. Orang yang sudah sampai dalam tataran ini perkembangan ruhaninya, waktu hidupnya habis tanpa bisa memperoleh kepastian. Dia “koncatan gondhelaning  ngaurip” (kehilangan pegangan hidup). Dia tidak akan bisa mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang menjadi kebutuhan hidupnya. Umpamanya : “aku” ini siapa, tujuan hidupku apa, jika sudah mati “aku” ini bagaimana dan di mana, keadaanya lalu bagaimana? Dia membutuhkan sekali “bukti-bukti bab adanya alam langgeng”, agar bisa percaya jika alam langgeng itu benar adanya.

Para pembaca yang budiman,

Karena dari hal-hal yang sudah penulis paparkan tadi, tidak ada jalan lain untuk “nguwasani sangga runggi” (syak) seperti yang dialami oleh orang-orang yang mendapati jalan buntu, selain hanya percaya. Yaitu percaya kepada adanya Gusti Allah, percaya kepada adanya wahyu, percaya kepada adanya malaikat, percaya kepada adanya Nabi, percaya kepada adanya akhirat, percaya kepada adanya Pengadilan Agung, percaya adanya surga dan neraka, percaya kepada adanya alam penantian sebelum saatnya hari kiamat, dan percaya kepada keterangan-keterangan, piwulang-piwulang, hukum/aturan, ancaman dan janji yang diberikan oleh Allah  kepada manusia melalui Nabi utusan-Nya. Tanpa kepercayaan itu semua, hidup manusia akan jadi sengkleh atau pincang.

Semoga bermanfaat

puserlangit

Oleh: ki puser langit | Januari 5, 2010

MORAL BANGSA DALAM TARUHAN

DI ANTARA fenomena sosiologis masyarakat Indonesia yang tetap sulit dipahami adalah munculnya dua kecenderungan yang saling berlawanan. Pertama, segala religiositas dengan tekan ritual dan kehidupan saleh, moralitas dan tanggung jawab. Pesan-pesan agama melalui mimbar masjid, gereja, kelenteng, pura dan lain-lain yang berisi agar manusia pandai-pandai menjaga diri agar tidak terjerembab ke dalam malapetaka dan kehancuran moral. Yang tertarik terhadap kegiatan agama ini untuk kasus Indonesia sangat menggembirakan. Tempat-tempat ibadah itu hampir selalu dipadati manusia yang datang dari berbagai kelas sosial. Ada kelas buruh kecil, pedagang, konglomerat, direktur bank, para pejabat, mahasiswa, intelektual, anggota masyarakat lain yang tidak termasuk dalam kelas itu semua. Para pengamat mungkin tidak sukar untuk sampai pada kesimpulan bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang taat beragama. Antusiasme beragama dari waktu ke waktu menunjukkan grafik yang senantiasa naik. Kedua, kita menyaksikan kecenderungan segelintir anggota masyarakat, yang anehnya mungkin sebagian berasal dari kelas yang mewakili kategori pertama, yang tidak mau tahu dengan segala bingkai moral. Pelanggaran moral baginya dirasakan enteng saja sekalipun pesan-pesan agama yang sering didengarnya mengancam perilaku yang tidak bertanggung jawab dan yang dapat merapuhkan sendi-sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Contoh yang sangat memuakkan dan menggelisahkan adalah kecenderungan untuk berbuat skandal korupsi dan menyalahgunakan kekuasaan. Sejarah Indonesia modern selama hampir empat dekade sarat dengan muatan korupsi dan penyalahgunaan wewenang, padahal bangsa ini dikenal sebagai bangsa yang religius dan sebagai bangsa muslim terbesar di muka bumi. Atribut-atribut mulia dan besar ini teramat sering dihancurkan oleh perilaku korup dan penyalahgunaan kekuasaan. Caranya dapat bermacam-macam : dari korupsi kecil-kecilan di tempat yang kering sampai kepada permainan kongkalikong antara seorang konglomerat dengan para pejabat yang bermental korup dan penuh kepura-puraan. Dari segi moral, kita dihadapkan kepada pertanyaan yang teramat serius: mengapa para koruptor tidak pernah jera melakukan profesinya di tengah-tengah sebuah bangsa yang digelari religius dengan dasar Pancasila? Apakah undang-undang anti korupsi tidak berdaya dengan serba rekomendasi dan katebelence seorang pejabat? Terhadap pertanyaan-pertanyaan itu, salah satu kemungkinan jawabnya adalah karena sistem hukum kita masih lemah. Pelaksanaan sanksinya sering bersifat pilih kasih. Seorang koruptor yang dilindungi payung pejabat tetap merasa aman dalam petualangannya menggerogoti sendi-sendi ekonomi negara. Di Malaysia misalnya, korupsi bukanlah barang langka, tetapi bila ketahuan aparat hukum tidak akan basa-basi bertindak sesuai dengan sistem keadilan yang berlaku. Bila sanksi akhirat tidak lagi dihiraukan orang, maka sanksi dunia berupa sistem hukum yang kuat dan adil tidak boleh lagi ditunda-tunda pelaksanaanya, kalau memang bangsa ini masih senang dan tidak malu disebut sebagai bangsa yang beradab. Selama hampir empat dekade ini kita berkubang dalam budaya korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan, apakah belum cukup? Sila kedua Pancasila adalah sila kemanusiaan yang adil dan beradab, tetapi justru perilaku sebagian kita mengkhianati nilai moral dari sila kedua ini. Nilai adil dan beradab sebegitu jauh lebih merupakan hiasan bibir dalam penataran-penataran. Perbuatan korup adalah berbuatan biadab yang tidak layak dilakukan oleh warga negara dari bangsa yang beradab. Sekalipun tulisan ini meyebutkan bahwa “kita berkubang dalam budaya korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan”, tidaklah lantas disimpulkan bahwa sebagian besar warga negara Indonesia bermental korup dan senang menyalahgunakan kekuasaan. Penulis masih percaya bahwa sebagian besar rakyat Indonesia belum lagi tercemar hati nuraninya untuk berbuat yang macam-macam. Harapan kita tentu saja sebelum tercemar itu tidak ada kaitannya dengan masalah kesempatan, dengan masalah mumpung. Sikap ini timbul semata-mata karena inter\gritas moral yang sejati dengan landasan taqwa yang sejati pula.

Oleh: ki puser langit | Januari 1, 2010

Aktualisasi Fitrah Manusia dan Wawasan Masa Depan

Kita sekarang sedang berada di bagian awal abad 21, sebuah abad yang ditandai oleh pesatnya perkembangan ilmu dan teknologi yang serba mengagumkan. Dunia kini seakan-akan telah berubah menjadi sebuah kampong global yang diperkuat oleh jaringan komunikasi elektronik yang serba canggih. Suatu peristiwa di Afrika Selatan misalnya dapat kita ikuti beberapa saat setelah peristiwa berlaku. Tidak ada yang dapat kita rahasiakan sekarang. Tapi di sisi lain abad ini adalah abad yang penuh gejolak dan pertentangan. Dari dalam rahimnya telah meledak dua perang dunia yang sangat dahsat yang telah membunuh ratusan ribu manusia. Kemudian untuk sekitar 40 tahun sesudah Perang Dunia II berlangsung pula perang dingin antara adikuasa yang nyaris membawa dunia ke jurang perang dunia III. Awal abad ini pula menyaksikan rontoknya komunisme yang bagi kapitalisme yang zalim “Jam komunisme sudah tidak berbunyi lagi” kata Alexnder Solzhenotsyn, sastrawan dan pemikir Rusia, pemenang hadiah Nobel.
Dalam pada itu umat Islam sekalipun sebagian besar telah bebas dari belenggu penjajahan asing, mereka belum lagi menemukan jati dirinya secara mantap dan meyakinkan sebagai manusia beriman. Hati mereka belum lagi terbuka lebar untuk menerima dictum Al Qur’an : “Sesungguhnya manusia beriman itu bersaudara, maka damaikanlah di antara saudara-saudaramu itu” (QS. Al-Hujurat 10)
Ayat ini dengan tegas menyatakan bahwa pilihan yang halal bagi umat Islam ialah bersaudara, sementara pilihan yang lain hanyalah akan membawa kepada kehinaan dan malapetaka. Namun umat Islam dengan alas an yang dicari-cari telah mengabaikan prinsip persaudaraan ini selama kurun waktu yang panjang, padahal buahnya tidak lain kecuali penderitaan. Nurani mereka tidak cukup peka untuk membawa isyarat-isyarat sejarah tentang betapa vitalnya hubungan persaudaraan antara satu bangsa Muslim dengan bangsa Muslim yang lain. Mereka seolah-olah kehilangan kompas.
Di lapangan ilmu dan teknologi, pihak lain telah sangan jauh di depan, sementara umat Islam masih menggapai-gapai diburitan. Memang di antara negeri-negeri Muslim ada yang kaya dengan sumber-sumber alam, tetapi kemampuan kita untuk mengelolanya masih sangat terbatas. Posisi kita adalah posisi tergantung. Tergantung kepada Negara-negara yang berteknologi maju. Dan adalah sebuah kenyataan sejarah sejak puluhan tahun yang lalu bahwa Negara maju memang mengharapkan agar umat Islam tidak beranjak dari posisi tergantung itu. Sekali beranjak mereka tidak akan berleluasa lagi mendikte dan mengeksploitasi kita. Oleh sebab itu temponya sudah sangat mendesak bagi umat Islam untuk pandai-pandai mengaktualisasikan potensi fitrahnya agar kita punya posisi yang berwibawa dalam percaturan global. Jangan diharapkan dunia yang serba sekuler dan materialistik ini akan merasa belas kasihan kepada kita. Nasib kita berada di tangan kita sepenuhnya.
Adalah suatu kenyataan sejarah bahwa suatu tahap perjuangan telah kita lalui, yaitu perjuangan merebut kemerdekaan. Alhamdulillah, kini sebagian besar negeri Islam telah bebas secara formal. Tapi di bidang ekonomi dan teknologi kita belum lagi mampu berdikari, sebagaimana telah disinggung di atas. Ini merupakan tahap perjuangan yang kedua dan akan memakan waktu yang lebih lama. Diperlukan strategi perkembangan dan strategi budaya yang berwawasan jauh ke depan. Pertimbangan-pertimbangan rasional dan moral dalam menyusun strategi ini haruslah saling mendukung. Pembangunan yang kita inginkan tidaklah semata-mata dapat diukur dalam matrik pertumbuhan ekonomi dengan mengabaikan pembangunan manusia. Filsafat perjuangan kita mengajarkan bahwa yang kita dambakan bukan hanya sekedar bebas dari penindasan asing, tapi juga harus bebas dari penindasan siapapun dan dalam bentuk apapun. Fitrah manusia hanyalah bisa berkembang secara bermakna dalam iklim kebebasan dan kemerdekaan. Alangkah tingginya nilai sebuah kebebasan. Kebebasan yang bertanggung jawab, bukan kebebasan binatang jalang.
Demi untuk menghadapi cabaran di atas, satu-satunya jalan yang terbuka bagi umal Islam adalah agar mereka dapat tampil ke gelanggang sejarah, nasional maupun global, sebagai umat yang cerdas dam cergas. Kecerdasan adalah lawan dari kebodohan. Karena kebodohanlah kita pada masa lampau sampai di jajah pihak lain. Kebodohan adalah pangkal dari segala macam kehinaan dan rasa rendah diri. Islam tidak mungkin jaya dan mulia bilamana umatnya masih berlumur dalam kebodohan dan keterbelakangan. Barangkali disini terletak rahasia mengapa ayat Al Qur’an yang turun pertama kali adalah dalam bentuk imperative, perintah untuk membaca (Iqro’). Iqro’ adalah lambing peradaban yang tinggi dan moral. Tapi mengapa umat Islam pada masa lampau bersedia hidup dalam “rahmat” buta huruf? Inilah sebuah keteledoran sejarah yang tidak boleh terulang kembali, padalah dunia Islam sebelum menjadi bodoh pernah memimpin peradaban yang paling maju selama kira-kira enam abad, berkat realisasi Iqro’ dalam semua dimensi kehidupan.
Bermula dari bagian akhir abad ke-19, umat Islam telah sadar kembali. Sadar akan kehilapan sejarah yang pernah terjadi. Kita sekarang sudah dalam proses untuk menjadi cerdas dan kreatif. Seorang pengarang pernah berucap bahwa kekayaan yang kita cari sebenarnya bukan terletak di bumi atau pada jumlah manusia. Kekayaan itu terletak terutama pada semangat dan kemampuan manusia untuk berpikir dan mencipta. Bumi yang kaya dan ditambah jumlah penduduk yang yang besar tidak merupakan jaminan bagi kekayaan suatu bangsa. Bangsa itu baru dapat menjadi jaya bila rakyatnya punya kemampuan yang tinggi untuk berpikir dan mencipta. Sekedar jumlah besar, sekalipun itu penting sebagai manpower, tetapi bila rakyat pasif dan statis, bukan mustahil malah akan menjadi beban peradaban. Oleh karena itu menjadi tugas kita bersama untuk mempercepat proses kecerdasan dan pencerahan umat dan bangsa kita agar kita benar-benar berwibawa dalam percaturan dunia. Potensi fitrah kita jangan kita sia-siakan untuk suatu yang tidak bermakna. Kesungguhan dan keseriusan dalam bertugas dan mencari ilmu wajiblah menjadi titik perhatian utama kita. Kita tatap masa depan dengan kepala tegak, tapi dengan hati yang senantiasa tunduk kepada Allah dan kepada prinsip kebenaran. Hidup ini berlaku singkat untuk dipermain-mainkan. Semoga dengan sikap yang penuh perhitungan umat Islam akan mampu melangkah memasuki abad 21 ini dengan rasa percaya diri yang tinggi. Kita ucapkan selamat tinggal kepada budaya hidup yang berleha-leha. Kita mantapkan niat untuk berpikir besar dan berbuat besar. Insya Allah

Oleh: ki puser langit | Januari 1, 2010

ISLAM DAN PERKEMBANGANNYA DI DUNIA

Mendiang Bertrand Russell, filosof agnostic Inggris sekalipun memandang semua agama sebagai berbahaya karena ditegakkan atas dasar fondasi perasaan takut, masih punya catata-catatan jujur dalam menganalisis perkembangan gerak sejarah Islam. Sayang Russell tidak mengenal Islam dari sumber utamaya : Al Qur’an dan karier Nabi Muhammad SAW secara langsung, sehingga ia tidak dapat bersikap apresiasif penuh terhadap agama terakhir ini. Tulisan singkat ini diambilkan dari bukunya A History of Western Philosophy, 1972: 419-428, di bawah judul “Mohammedan Culture and Philosophy”.
Serangan-serangan yang dilakukan umat Islam terhadap Bizantium, Afrika dan Spanyol, menurut Russell, berbeda dengan serangan yang dilancarkan oleh pihak Barbarian Utara atas dunia Barat dalam dua segi. Pertama, imperium Timur (Bizantium) dapat bertahan sampai 1453, yaitu hamper seribu tahunlebih lama ketimbang imperium Barat. Kedua, serangan-serangan utama terhadap Bizantium dilakukan oleh umat Islam, yang tidak menjadi pemeluk Kristen setelah penaklukan, tetapi berhasil mengembangkan suatu peradaban yang penting menurut coraknya sendiri.
Segera setelah wafatnya Nabi, peneklukan-penaklukan ini bermula, dan kemudian berlangsung dengan kecepatan yang luar biasa. Di wilayah Timur, Syiria dijarah pada 634 dan dirampungkan penguasaannya dalam dua tahun. Pada 637 Persia juga diserbu, pada 650 penaklukan Persia telah rampung. India diserbu pada 664. pada tahun-tahun 669 dan 716-717, Konstantinopel dikepung, sekalipun baru berhasil dikuasai pada 1453 oleh Sultan Muhammad al Fatih dari Turki Usmani.
Gerakan kea rah barat tidak begitu cepat. Mesir ditaklukkan pada 642, Kartago baru pada 697. ekspedisi ke Barat (kecuali untuk Sisilia dan Italia Selatan) tertahan dengan kalahnya tentara Islam dalam pertempuran Tours pada 732, suatu pertempuran yang terjadi seratus tahun setelah Nabi wafat.
Factor-faktor apa yang memudahkan penaklukan Islam itu? Russell memberikan fakta sebagai berikut. Persia dan Bizantium telah kehabisan tenaga akibat perang berkepanjangan yang mereka lakukan. Orang-orang Syiria, yang pada saat itu umumnya adalah umat Kristen Nestorian (yang tidak mempercayai ketuhanan Yesus), menderita pengejaran pihak Katolik. Kemudian Islam datang menawarkan toleransi kepada semua sekte Kristen asal mereka mau membayar pajak kepala (jiz’a) kepada penguasa Islam. Dengan cara yang serupa pihak Kristen Monofisit Mesir yang merupakan sebagian besar penduduk negeri itu, menyambut kedatangan pihak Islam dengan ramah. Di Afrika, pihak Arab beraliansi dengan pihak Berber untuk menyerang Spanyol, dimana pasukan Gabungan itu dibantu oleh pihak Yahudi yang sebelumnya dianiaya secara kejam oleh bangsa Visigoth (Goth Barat) yang berkuasa di Spanyol pada waktu itu.
Lebih jauh Russell menjelaskan bahwa agama yang dibawa Nabi Muhammad adalah agama yang ditegakkan atas prinsip monoteisme sederhana. Jadi tidak diruwetkan oleh teologi Trinitas dan Inkarnasi. Nabi sendiri tidak pernah mengklaim sebagai bersifak ketuhanan, begitu juga para pengikutnya tidak pernah punya klaim seperti itu untuk Nabinya.
Dari apa yang dipaparkan Russell di atas, dapatlah kita simpulkan bahwa kecepatan gerak Islam pada abad awal itu dimudahkan oleh ajarannya tentang toleransi agaa sebagai salah satu manifestasi tauhid. Sikap toleransi inilah yang mengundang sikte-sikte Kristen dan Yahudi untuk memberikan bantuan kepada penakluk-penakluk Muslim untuk membebaskan negeri tempat tinggalnya dari cengkraman penguasa-penguasa zalim dan berhati sempit. Toleransi Islam adalah terobosan sejarah yang sangat bermakna untuk dicatat dan dicontoh oleh siapapun yang punya kepekaan batin dan kejujuran intelektual. Bertrand Russell seorang pemikir agnostic, mengakui fakta ini dengan jujur

Older Posts »

Kategori