Oleh: ki puser langit | Desember 24, 2009

SEJARAH DESA GEPARANG

Geparang adalah sebuah desa kecil yang yang berada di wilayah pulau jawa bagian selatan, tepatnya berada di kecamatan Purwodadi Kabupaten Purworejo. Apabila anda melewati Jalan Lintas Selatan (Jalan Daendels) yang menghubungkan beberapa kabupaten di pesisir selatan, maka anda akan masuk ke Desa Geparang karena memang letaknya mamanjang sepanjang 2 km di kanan kiri jalan tersebut. Ada yang menarik untuk dibicarakan tentang Geparang ini, terutama tentang mengapa desa ini bisa dinamai “geparang”. Menurut sejarah versi para sesepuh desa yang kemungkinan ini juga hanyalah hasil meraba-raba karena memang tidak ada bukti otentik dan ilmiah berupa benda-benda bersejarah maupun prasasti yang menerangkan awal mula nama “Geparang”. Menurut para sesepuh, Geparang berasal dari kata “kena parang” (terkena senjata pedang). Lalu siapakah yang terkena senjata pedang tersebut sampai-sampai peristiwa tersebut diabadikan menjadi sebuah nama desa? Yang terluka oleh parang (pedang) ini adalah pengikut Pangeran Diponegoro yang berperang melawan pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1825 – 1830 M. Ada empat prajurit yang syahid di wilayah desa ini yaitu Kyai Singo Wedono, Kyai Truno Wanteyo, Kyai Tambang Joyo dan Kyai Ngelo. Semuanya dimakamkan secara terpisah di desa yang sekarang disebut Geparang tersebut. Dan dari empat prajurit tersebut maka dinamailah makam yang ada di Geparang yang memang kebetulan lokasinya berada di tepian sungai Lereng dan Jalan Desa sebagai: TPU Singowedono (letaknya paling ujung barat laut), TPU Truna Wanteya (terletak di pertengahan desa dipinggir jalan Diponegoro), TPU Tambang Joyo (letaknya di ujung Timur Laut), dan TPU Ngelo (terletak di selatan dan berbatasan dengan desa Jatikontal).
Dahulu di desa ini banyak dijumpai benda-benda peninggalan rakyat pengikut Pangeran Diponegoro waktu berperang melawan penjajah. Hampir di sepanjang Jalan Diponegoro yang terletak membentang dari timur ke barat di tengah-tengah desa banyak ditemui batu lesung (tempat menumbuk padi). Lesung-lesung ini oleh penduduk dianggap keramat, karena memang sering terjadi keanehan terutama apabila lesung-lesung ini dinjak-injak dan dijadikan tempat bermain oleh anak-anak ataupun ada orang yang sengaja membuang hajat pada batu lesung itu, maka yang bersangkutan akan kesurupan maupun pingsan tanpa sebab hingga dalam jangka waktu yang cukup lama. Di samping itu pada malam-malam tertentu seringkali terdengan suara kotekan seperti orang yang sedang menumbuk padi pada lesung tersebut, namun apabila didekati tidak didapati wujud dari siapa yang melakukan aktivitas menumbuk padi tersebut. Bebatuan tersebut sekarang oleh pemerintah akhirnya dibawa ke Museum Purbakala sebagai benda bersejarah yang patut dilindungi.
Dalam perkembangannya, desa geparang berkembang secara pesat terutama dalam hal ekonomi, sosial, agama dan kependidikan. Mata pencaharian penduduk desa mayoritas sebagai Petani Penggarap, Pembuat Gula Merah, Pembuat Batu Bata (batu bata Geparang terkenal hingga luar kabupaten), Tukang Batu dan Kayu, Peteranak, dan Pengusaha Home Industri. Usaha Home Industri yang menjadi unggulan dan menyerap banyak karyawan adalah Home Industri Tahu dan Tempe yang lokasinya berada di Rt 002 Rw 002. ini adalah satu-satunya industri Tahu Tempe satu-satunya yang ada di desa Geparang. Selain itu ada juga yang berprofesi sebagai pengusaha Travel (carteran) dan warung kelontong, dan juga Pegawai Negeri Sipil maupun TNI Polri.
Di desa ini terdapat banyak ragam agama, namun para penganutnya bisa hidup berdampingan dengan rukun. Mereka tidak membeda-bedakan agama maupun keyakinan dalam hidup bermasyarakat. Di samping itu tingkat pendidikan warga juga bisa dibilang tinggi, karena hampir 60% bertamatan SLTA, bahkan tidak sedikit yang berijazah S1 dan S2.
Dalam bidang seni dan budaya, Geparang adalah gudangnya. Mengapa? Karena di desa ini banyak sekali terdapat kelompok kesenian antara lain : Group Kethoprak, Kuda Lumping, Orkes Melayu, Group Band, dan Organ Tunggal. Begitu pula dalam bidang olahraga. PS Gelora Putra sering kali menjuarai kompetisi Sepak Bola baik yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kecamatan, Kabupaten, maupun Lintas Kabupten. PS Gelora Putra sering kali mewakili Kabupaten Purworejo mengukuti turnamen sepak bola lintas kabupaten dan beberapa kali berhasil menggondol Teropi kemenangan. Hal ini patut dibanggakan dan menjadi perhatian khusus pemerintah.
Pada tahun 2005 pemerintah pusat telah memprogramkan pembangunan jalan lintas selatan yang melewati desa geparang (jalan Daendels). Dengan adanya pembangunan jalan lintas selatan ini, sangatlah berpengaruh kuat terhadap perkembangan ekonomi masyrakat selatan. Apalagi semenjak teknologi informasi sekarang telah menyebar luas. di Desa geparang telah berdiri kokoh dua menara yaitu milik telkomsel dan milik indosat. Dengan kemajuan teknologi ini lebih mempermudah masyarakat luas dalam berkomunikasi. Pada tahun 2009 ini juga akan berdiri sebuah perusahaan kayu lapis yang dikelola oleh investor asing yang diharapkan akan mampu menampung tenaga kerja lokal sehingga mampu meningkatkan taraf hidup masyarakat pesisir selatan. Semoga.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: