Oleh: ki puser langit | Januari 1, 2010

Aktualisasi Fitrah Manusia dan Wawasan Masa Depan

Kita sekarang sedang berada di bagian awal abad 21, sebuah abad yang ditandai oleh pesatnya perkembangan ilmu dan teknologi yang serba mengagumkan. Dunia kini seakan-akan telah berubah menjadi sebuah kampong global yang diperkuat oleh jaringan komunikasi elektronik yang serba canggih. Suatu peristiwa di Afrika Selatan misalnya dapat kita ikuti beberapa saat setelah peristiwa berlaku. Tidak ada yang dapat kita rahasiakan sekarang. Tapi di sisi lain abad ini adalah abad yang penuh gejolak dan pertentangan. Dari dalam rahimnya telah meledak dua perang dunia yang sangat dahsat yang telah membunuh ratusan ribu manusia. Kemudian untuk sekitar 40 tahun sesudah Perang Dunia II berlangsung pula perang dingin antara adikuasa yang nyaris membawa dunia ke jurang perang dunia III. Awal abad ini pula menyaksikan rontoknya komunisme yang bagi kapitalisme yang zalim “Jam komunisme sudah tidak berbunyi lagi” kata Alexnder Solzhenotsyn, sastrawan dan pemikir Rusia, pemenang hadiah Nobel.
Dalam pada itu umat Islam sekalipun sebagian besar telah bebas dari belenggu penjajahan asing, mereka belum lagi menemukan jati dirinya secara mantap dan meyakinkan sebagai manusia beriman. Hati mereka belum lagi terbuka lebar untuk menerima dictum Al Qur’an : “Sesungguhnya manusia beriman itu bersaudara, maka damaikanlah di antara saudara-saudaramu itu” (QS. Al-Hujurat 10)
Ayat ini dengan tegas menyatakan bahwa pilihan yang halal bagi umat Islam ialah bersaudara, sementara pilihan yang lain hanyalah akan membawa kepada kehinaan dan malapetaka. Namun umat Islam dengan alas an yang dicari-cari telah mengabaikan prinsip persaudaraan ini selama kurun waktu yang panjang, padahal buahnya tidak lain kecuali penderitaan. Nurani mereka tidak cukup peka untuk membawa isyarat-isyarat sejarah tentang betapa vitalnya hubungan persaudaraan antara satu bangsa Muslim dengan bangsa Muslim yang lain. Mereka seolah-olah kehilangan kompas.
Di lapangan ilmu dan teknologi, pihak lain telah sangan jauh di depan, sementara umat Islam masih menggapai-gapai diburitan. Memang di antara negeri-negeri Muslim ada yang kaya dengan sumber-sumber alam, tetapi kemampuan kita untuk mengelolanya masih sangat terbatas. Posisi kita adalah posisi tergantung. Tergantung kepada Negara-negara yang berteknologi maju. Dan adalah sebuah kenyataan sejarah sejak puluhan tahun yang lalu bahwa Negara maju memang mengharapkan agar umat Islam tidak beranjak dari posisi tergantung itu. Sekali beranjak mereka tidak akan berleluasa lagi mendikte dan mengeksploitasi kita. Oleh sebab itu temponya sudah sangat mendesak bagi umat Islam untuk pandai-pandai mengaktualisasikan potensi fitrahnya agar kita punya posisi yang berwibawa dalam percaturan global. Jangan diharapkan dunia yang serba sekuler dan materialistik ini akan merasa belas kasihan kepada kita. Nasib kita berada di tangan kita sepenuhnya.
Adalah suatu kenyataan sejarah bahwa suatu tahap perjuangan telah kita lalui, yaitu perjuangan merebut kemerdekaan. Alhamdulillah, kini sebagian besar negeri Islam telah bebas secara formal. Tapi di bidang ekonomi dan teknologi kita belum lagi mampu berdikari, sebagaimana telah disinggung di atas. Ini merupakan tahap perjuangan yang kedua dan akan memakan waktu yang lebih lama. Diperlukan strategi perkembangan dan strategi budaya yang berwawasan jauh ke depan. Pertimbangan-pertimbangan rasional dan moral dalam menyusun strategi ini haruslah saling mendukung. Pembangunan yang kita inginkan tidaklah semata-mata dapat diukur dalam matrik pertumbuhan ekonomi dengan mengabaikan pembangunan manusia. Filsafat perjuangan kita mengajarkan bahwa yang kita dambakan bukan hanya sekedar bebas dari penindasan asing, tapi juga harus bebas dari penindasan siapapun dan dalam bentuk apapun. Fitrah manusia hanyalah bisa berkembang secara bermakna dalam iklim kebebasan dan kemerdekaan. Alangkah tingginya nilai sebuah kebebasan. Kebebasan yang bertanggung jawab, bukan kebebasan binatang jalang.
Demi untuk menghadapi cabaran di atas, satu-satunya jalan yang terbuka bagi umal Islam adalah agar mereka dapat tampil ke gelanggang sejarah, nasional maupun global, sebagai umat yang cerdas dam cergas. Kecerdasan adalah lawan dari kebodohan. Karena kebodohanlah kita pada masa lampau sampai di jajah pihak lain. Kebodohan adalah pangkal dari segala macam kehinaan dan rasa rendah diri. Islam tidak mungkin jaya dan mulia bilamana umatnya masih berlumur dalam kebodohan dan keterbelakangan. Barangkali disini terletak rahasia mengapa ayat Al Qur’an yang turun pertama kali adalah dalam bentuk imperative, perintah untuk membaca (Iqro’). Iqro’ adalah lambing peradaban yang tinggi dan moral. Tapi mengapa umat Islam pada masa lampau bersedia hidup dalam “rahmat” buta huruf? Inilah sebuah keteledoran sejarah yang tidak boleh terulang kembali, padalah dunia Islam sebelum menjadi bodoh pernah memimpin peradaban yang paling maju selama kira-kira enam abad, berkat realisasi Iqro’ dalam semua dimensi kehidupan.
Bermula dari bagian akhir abad ke-19, umat Islam telah sadar kembali. Sadar akan kehilapan sejarah yang pernah terjadi. Kita sekarang sudah dalam proses untuk menjadi cerdas dan kreatif. Seorang pengarang pernah berucap bahwa kekayaan yang kita cari sebenarnya bukan terletak di bumi atau pada jumlah manusia. Kekayaan itu terletak terutama pada semangat dan kemampuan manusia untuk berpikir dan mencipta. Bumi yang kaya dan ditambah jumlah penduduk yang yang besar tidak merupakan jaminan bagi kekayaan suatu bangsa. Bangsa itu baru dapat menjadi jaya bila rakyatnya punya kemampuan yang tinggi untuk berpikir dan mencipta. Sekedar jumlah besar, sekalipun itu penting sebagai manpower, tetapi bila rakyat pasif dan statis, bukan mustahil malah akan menjadi beban peradaban. Oleh karena itu menjadi tugas kita bersama untuk mempercepat proses kecerdasan dan pencerahan umat dan bangsa kita agar kita benar-benar berwibawa dalam percaturan dunia. Potensi fitrah kita jangan kita sia-siakan untuk suatu yang tidak bermakna. Kesungguhan dan keseriusan dalam bertugas dan mencari ilmu wajiblah menjadi titik perhatian utama kita. Kita tatap masa depan dengan kepala tegak, tapi dengan hati yang senantiasa tunduk kepada Allah dan kepada prinsip kebenaran. Hidup ini berlaku singkat untuk dipermain-mainkan. Semoga dengan sikap yang penuh perhitungan umat Islam akan mampu melangkah memasuki abad 21 ini dengan rasa percaya diri yang tinggi. Kita ucapkan selamat tinggal kepada budaya hidup yang berleha-leha. Kita mantapkan niat untuk berpikir besar dan berbuat besar. Insya Allah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: