Oleh: ki puser langit | Januari 5, 2010

MORAL BANGSA DALAM TARUHAN

DI ANTARA fenomena sosiologis masyarakat Indonesia yang tetap sulit dipahami adalah munculnya dua kecenderungan yang saling berlawanan. Pertama, segala religiositas dengan tekan ritual dan kehidupan saleh, moralitas dan tanggung jawab. Pesan-pesan agama melalui mimbar masjid, gereja, kelenteng, pura dan lain-lain yang berisi agar manusia pandai-pandai menjaga diri agar tidak terjerembab ke dalam malapetaka dan kehancuran moral. Yang tertarik terhadap kegiatan agama ini untuk kasus Indonesia sangat menggembirakan. Tempat-tempat ibadah itu hampir selalu dipadati manusia yang datang dari berbagai kelas sosial. Ada kelas buruh kecil, pedagang, konglomerat, direktur bank, para pejabat, mahasiswa, intelektual, anggota masyarakat lain yang tidak termasuk dalam kelas itu semua. Para pengamat mungkin tidak sukar untuk sampai pada kesimpulan bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang taat beragama. Antusiasme beragama dari waktu ke waktu menunjukkan grafik yang senantiasa naik. Kedua, kita menyaksikan kecenderungan segelintir anggota masyarakat, yang anehnya mungkin sebagian berasal dari kelas yang mewakili kategori pertama, yang tidak mau tahu dengan segala bingkai moral. Pelanggaran moral baginya dirasakan enteng saja sekalipun pesan-pesan agama yang sering didengarnya mengancam perilaku yang tidak bertanggung jawab dan yang dapat merapuhkan sendi-sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Contoh yang sangat memuakkan dan menggelisahkan adalah kecenderungan untuk berbuat skandal korupsi dan menyalahgunakan kekuasaan. Sejarah Indonesia modern selama hampir empat dekade sarat dengan muatan korupsi dan penyalahgunaan wewenang, padahal bangsa ini dikenal sebagai bangsa yang religius dan sebagai bangsa muslim terbesar di muka bumi. Atribut-atribut mulia dan besar ini teramat sering dihancurkan oleh perilaku korup dan penyalahgunaan kekuasaan. Caranya dapat bermacam-macam : dari korupsi kecil-kecilan di tempat yang kering sampai kepada permainan kongkalikong antara seorang konglomerat dengan para pejabat yang bermental korup dan penuh kepura-puraan. Dari segi moral, kita dihadapkan kepada pertanyaan yang teramat serius: mengapa para koruptor tidak pernah jera melakukan profesinya di tengah-tengah sebuah bangsa yang digelari religius dengan dasar Pancasila? Apakah undang-undang anti korupsi tidak berdaya dengan serba rekomendasi dan katebelence seorang pejabat? Terhadap pertanyaan-pertanyaan itu, salah satu kemungkinan jawabnya adalah karena sistem hukum kita masih lemah. Pelaksanaan sanksinya sering bersifat pilih kasih. Seorang koruptor yang dilindungi payung pejabat tetap merasa aman dalam petualangannya menggerogoti sendi-sendi ekonomi negara. Di Malaysia misalnya, korupsi bukanlah barang langka, tetapi bila ketahuan aparat hukum tidak akan basa-basi bertindak sesuai dengan sistem keadilan yang berlaku. Bila sanksi akhirat tidak lagi dihiraukan orang, maka sanksi dunia berupa sistem hukum yang kuat dan adil tidak boleh lagi ditunda-tunda pelaksanaanya, kalau memang bangsa ini masih senang dan tidak malu disebut sebagai bangsa yang beradab. Selama hampir empat dekade ini kita berkubang dalam budaya korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan, apakah belum cukup? Sila kedua Pancasila adalah sila kemanusiaan yang adil dan beradab, tetapi justru perilaku sebagian kita mengkhianati nilai moral dari sila kedua ini. Nilai adil dan beradab sebegitu jauh lebih merupakan hiasan bibir dalam penataran-penataran. Perbuatan korup adalah berbuatan biadab yang tidak layak dilakukan oleh warga negara dari bangsa yang beradab. Sekalipun tulisan ini meyebutkan bahwa “kita berkubang dalam budaya korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan”, tidaklah lantas disimpulkan bahwa sebagian besar warga negara Indonesia bermental korup dan senang menyalahgunakan kekuasaan. Penulis masih percaya bahwa sebagian besar rakyat Indonesia belum lagi tercemar hati nuraninya untuk berbuat yang macam-macam. Harapan kita tentu saja sebelum tercemar itu tidak ada kaitannya dengan masalah kesempatan, dengan masalah mumpung. Sikap ini timbul semata-mata karena inter\gritas moral yang sejati dengan landasan taqwa yang sejati pula.


Responses

  1. Kangmas Ki Puserlangit,
    Saya nimbrung tanya ya. Begini lho, jika sesorang muslim suku Jawa, ia menolak kosupsi karena takut ketahuan. Meski korupsi kecil2 -an. ia tidak bohong karena khawatir terbuka di kemudian hari. Tapi ketakutan atau kekhawatiran itu itu tidak dilatar belakangi oleh kepercayaan agamanya, tapi oleh pendidikan. Nah, yg beginian ini gimana? Trims.

    • terima kasih pada mbah dalem yang sudah berkenan berkunjung. Menurut kami, menolak korupsi itu sudah merupakan tindakan mulia. tapi tentunya penolakan itu harus dilandasi pengetahuan agama yang baik pula. dalam arti menolak atau tidak mau korupsi dan berbohongnya itu karena hanya takut kepada Allah semata. bukan karena takut nanti kalau ketahuan. Jika hanya takut ketahuan toh bisa mengantisipasinya dengan berbagai tindakan licik bukan? lain halnya jika takutnya itu hanya kepada Allah semata. bagi yang takut kepada Allah tentu mereka merasakan bahwa Allah itu selalu mengawasinya, jadi tak ada peluang sedikitpun bagi mereka untuk berbuat curang alias korup. Mekaten mbah ingkang saget dalem aturaken, mboten ateges dalem paring piwucal dumateng mbah. justru sejatosipun dalem ingkang kedah nyuwun piwucal lan nasehat saking mbah awit taksih cubrukipun pangertosan dalem. nuwun

  2. sy setuju ki… jika masyarakat dan pejabat kita mpy bekal agama yg kuat, sy yakin KKN tak lagi ada di bumi kita

  3. Nyuwun pangapunten bilih pemanggih kulo niki klentu,sejatos ipun sanes agomo ingkang saget andadosaken sae tumraping manungsoipun, hananging budi pekertinipun meniko engkang kedah dipun gladi kanti lebet laaameniko nembih saget jujur, yen pek pinek (korupsi ) niku mboten klebet ajaran jawi ingkang kagungan budi pekerti luhur. laaaduko meniko ajaranipun sinten.Monggo dipun galih piyambak.( menyuplik dari ayat “carilah harta sebanyak-banyaknya seakan-akan engkau hidup seribu tahun lagi” dan yang terlupakan adalah” berserahdirilah kepadaku karena setiap saat engkau akan mati” laaameniko ingkang kesupen ) matur nuwun ugi nyuwun pangapunten bilih lepat anggen kulo matur nggih mbah. (nami kulo Djamal Seger ten suroboyo)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: