Oleh: ki puser langit | Januari 8, 2010

Amrih Rahayu Ing Akherat : “SIAP WAFAT”

Pengetahuan tentang mati yang benar sangatlah kita butuhkan, karena di setiap saat bisa saja kematian itu datang menjemput kita. Dengan demikian, laku batin kita bisa kita laksanakan, selain agar kita bisa menjalani hidup dengan baik dan benar, juga bisa menjalani saat kematian (wafat) yang penuh sih piwelas dan nugrahane Gusti Allah.

Kembali ke Alam Kelanggengan (Abadi)

A. Fungsi rasa percaya

Alam langgeng (abadi) yang dialami oleh manusia sesudah mati, itu dinamakan surga dan neraka. Kata surga dan neraka jangan dikira bahwa kata tersebut berasal dari bahasa Arab. Sama sekali bukan. Dalam agama Islam yang digunakan kata “Taman” (gambaran surga), dan kata “geni (api)” (gambaran neraka). Sebelum Nabi Muhammad SAW datang membawa Islam, kedua kata ssurga dan neraka tersebut sudah ada, dan sudah menjadi pengertian umum. Apakah kata surga dan neraka tersebut berasal dari bahasa Jawa Kuno, bahasa Sansekerta, atau bahasa yang lebih tua (kuno) lagi, penulis tidak paham.

Yang jelas, di dalam alam neraka manusia “padha ngunduh wohing budi lan panggawene sing kurang becik nalika urip ing ndonya” (manusia memetik buah dari perbuatan yang tidak baik ketika hidup di dunia), dan di dalam swarga (surga) “padha ngundhuh pakarti lan budine kang utama nalika ana ndonya” (memetik buah dari segala amal kebaikan ketika hidup di dunia.

Apakah surga dan neraka itu benar-benar ada?

Pertanyaan ini (jika benar-benar ada yang menanyakan hal ini), maka janganlah kita anggap remeh dan kita tertawakan. Adanya pertanyaan seperti itu karena memang dari hati yang benar-benar ingin mendapatkan kepastian jawaban tentang ada dan tidaknya surga dan neraka tersebut.

Untuk menjawab pertanyaan seperti tersebut di atas, maka bisa kita bandingkan dengan pertanyaan : apakah bakteri itu ada? Apakah virus itu ada? Nah, yang bisa menjawabnya dengan benar tentu saja hanyalah para ahli atau ilmuan yang pernah menggunakan peralatan khusus misalnya mikroskop. Jika orang awan yang belum pernah menggunakan mikroskop, maka mereka akan menjawabnya dengan jawaban: kata Doktor yang menulis buku “A”, atau yang meberikan kuliah di fakultas “A”, bakteri dan virus itu ada dan deskripsinya “seperti ini”. Sehingga sang Doktor tadi kemudian dijadikan Sumber yang dapat dipercaya, karena keahliannya.

Kita juga bisa menggunakan perbandingan lain dengan pertanyaan : apakah molekul, elektron, proton atau neiutron ada dan bagaimana rupa/wujudnya? Sarjana Fisika yang yang belum pernah melihat wujud dari elektron, juga hanya akan menggunakan Penemuan Ahli Nuklir Yang Terpercaya untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Dari kedua contoh tersebut di atas, dapat kita peroleh pengalaman, bahwa peraga umum atau peraga ahli, jika belum mengalami melihat atau mendengar sendiri, maka mereka akan berpedoman pada penemuan orang lain yang dianggap bisa dipercaya. Jadi kemudian semuanya mempunyai sifat Percaya begitu saja pada orang yang dianggap bisa dipercaya, dan tidak mempunyai kemampuan untuk menguji bab benar dan salah tentang anggapan atau penemuan tadi.

Kenyataan seperti ini jika dirasakan memang pahit. Tetapi nyatanya : banyak sekali bab-bab yang prinsip atau bab-bab yang tidak prinsip, yang menurut kita tidak bisa memilih selain hanyalah percaya atau tidak. Sebagaimana kedua contoh yang telah diutarakan di atas, kita hanya tinggal mempercayai saja bahwa bakteri dan virus itu ada (saya percaya memang ada), proton dan elektron itu ada (saya percaya memang ada). Atau kita bisa memilih : saya tidak percaya bahwa bakteri, virus, proton dan elektron itu ada karena saya belum pernah melihatnya sendiri.

Lalu apakah kalimat “saya tidak percaya karena belum melihatnya sendiri” ini bisa digunakan sebagai pedoman yang sifatnya mutlak (absolut) dalam hidup kita? Mari kita gali :

Saya tidak percaya jika kutub Utara dan kutub Selatan itu ada karena saya belum pernah melihatnya sendiri. Saya tidak percaya jika Tokyo, Moskow, Amsterdam, Kairo, New York dan Manila itu ada karena saya belum pernah melihatnya sendiri. Saya tidak percaya jika Surabaya itu ada, karena saya belum pernah melihatnya sendiri. Saya tidak percaya jika percetakan itu ada karena saya belum pernah melihat percetakan itu wujudnya seperti apa.

Sikap “tidak percaya karena belum melihat sendiri” yang sampai sebegitu ukurannya, bisa jadi dalam kehidupan tidak ada. Tetapi bisa saja ada, karena manusia itu beraneka ragam pola pikirnya.

Sikap seperti itu tadi jika lebih dalam lagi bisa sampai dalam tataran : “Aku”nya jasadku itu sesungguhnya apakah betul-betul ada, wong aku juga belum pernah melihat. Dan jika “aku”nya jasadku itu sesungguhnya tidak ada, lalu “aku” ini siapa dan bagaimana? Dan jika betul ada, lalu “aku” ini siapa dan bagaimana?

Pak Ahmad punya “aku”, bu Ahmad punya “aku”, anak-anakku juga punya “aku” sendiri-sendiri; “aku” yang begitu banyaknya tadi sebenarnya “apa, siapa dan bagaimana?”. Kesemuanya tadi apakah mandiri sendiri-sendiri. Apakah menunjukkan “kesatuan” seperti halnya hawa di dalam kendhi (wadah minuman), hawa di dalam sumur, hawa di dalam perut hewan, dan lain sebagainya. Dari kesekian hawa tersebut kan juga sama dengan hawa yang ada di halaman, di dalam rumah, di angkasa? Apakah “aku” yang ada dalam diri berbagai macam peraga tadi sama keadaannya dengan hawa yang ada di dalam beraneka macam barang? Lalu jika misalnya sama, apakah “aku” yang sudah lepas dari raga/jasad (mati) kemudian berkumpul lagi dengan “kesatuannya aku” seperti halnya kendhi jika pecah, botol jika pecah, sumur jika diurug, hawanya kemudian berkumpul lagi dalam “kesatuannya hawa”, yaitu angkasa?

Menghadapi berbagai macam pertanyaan yang sepertinya sepele itu, ternyata persoalannya tidak malah menjadi gamblang namun sebaliknya justru menjadi rumit, dan membingungkan. Dapat dikatakan kita masuk jalan buntu.

Apa sebabnya kok kita tidak bisa mendapatkan jawaban yang melegakan hati? Penyebabnya bermacam-macam :

1. Kita hanya menggunakan dasar percaya pada apa saja yang sudah dilihat atau dialami sendiri, selain itu tidak ada yang dipercaya.

2. Kita hanya menggunakan pancadriya dan nalar (akal, pikiran, reasoning) sebagai sarana untuk memahami keadaan dan apa saja; kita sama sekali tidak menggunakan “mata hati” (weruhe ati), “telinga hati” (pangrungune ati), dan potensi-potensi hati yang lain, sebab potensi hati tadi tidak bisa dibuktikan secara “ilmiah” atau “kenyataan (kasunyatan)”.

3. Dan karena kita tidak pernah menggunakan potensi hati, dan juga kita tidak mau percaya terhadap apa yang tidak kita alami sendiri, lalu kita susah sekali jika diajak percaya pada bab-bab yang sifatnya ghaib, misalnya saja adanya wahyu, adanya ilham, adanya malaikat, adanya setan dan jin, adanya roh suci, adanya surga dan neraka.

Orang yang mempunyai keyakinan “mau percaya hanya jika sudah mengalami atau melihat sendiri” jika salah kedaden bisa terperosok dalam alam pikiran yang gelap sekali, yaitu jika sampai tidak percaya  lagi jika bapak dan ibunya itu benar-benar bapak dan ibu yang menjadi “lantaran” kelahirannya di dunia. Dia juga bisa terperosok dalam pertanyaan : “apakah betul kedua orang tua itu bapak dan ibu yang sudah melahirkan aku, karena aku tidak bisa menyaksikannya sendiri?”. Orang yang sudah sampai dalam tataran ini perkembangan ruhaninya, waktu hidupnya habis tanpa bisa memperoleh kepastian. Dia “koncatan gondhelaning  ngaurip” (kehilangan pegangan hidup). Dia tidak akan bisa mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang menjadi kebutuhan hidupnya. Umpamanya : “aku” ini siapa, tujuan hidupku apa, jika sudah mati “aku” ini bagaimana dan di mana, keadaanya lalu bagaimana? Dia membutuhkan sekali “bukti-bukti bab adanya alam langgeng”, agar bisa percaya jika alam langgeng itu benar adanya.

Para pembaca yang budiman,

Karena dari hal-hal yang sudah penulis paparkan tadi, tidak ada jalan lain untuk “nguwasani sangga runggi” (syak) seperti yang dialami oleh orang-orang yang mendapati jalan buntu, selain hanya percaya. Yaitu percaya kepada adanya Gusti Allah, percaya kepada adanya wahyu, percaya kepada adanya malaikat, percaya kepada adanya Nabi, percaya kepada adanya akhirat, percaya kepada adanya Pengadilan Agung, percaya adanya surga dan neraka, percaya kepada adanya alam penantian sebelum saatnya hari kiamat, dan percaya kepada keterangan-keterangan, piwulang-piwulang, hukum/aturan, ancaman dan janji yang diberikan oleh Allah  kepada manusia melalui Nabi utusan-Nya. Tanpa kepercayaan itu semua, hidup manusia akan jadi sengkleh atau pincang.

Semoga bermanfaat

puserlangit


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: