Oleh: ki puser langit | Januari 10, 2010

Upacara selamatan/syukuran untuk diri pribadi

 

Seseorang yang merasa mendapatkan anugerah atau karunia dari Allah, tentu akan bersyukur. Misalnya : mendapatkan kenaikan pangkat, mendapatkan jabatan yang lebih tinggi, seperti diangkat menjadi direktur, kepala kantor, lurah, bupati, gubernur, dan sebagainya. Secara tradisi, ungkapan rasa syukur dilakukan dengan mengadakan upacara kecil berupa syukuran atau slametan.

Upacara syukuran dilakukan bersama dengan keluarga , teman-teman dekat, teman-teman sejawat, tetangga dll. Secara tradisional acara syukuran dimulai dengan doa bersama, dengan duduk bersila di atas tikar, melingkari nasi tumpeng dengan lauk pauk dan sesaji. Yang terpenting adalah doa, ucapan syukur yang ditujukan kepada Gusti Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang, yang telah memberikan anugerah kepada seorang titahnya. Pada umumnya inti doa adalah sebagai berikut : Setelah mengucap syukur atas anugerah yang dilimpahkan Allah, semoga titah yang mendapatkan karunia dan kepercayaan dari Allah  berupa kedudukan yang lebih tinggi, yang telah menaikkan derajatnya dan sekaligus tanggung jawabnya, selalu mendapatkan bimbingan-Nya, untuk selalu mampu melaksanakan tugasnya dengan selamat, baik dan benar. Semoga dijauhkan dari segala goda dan halangan yang bisa menjadikan petaka bagi diri, keluarga, maupun instansinya.

Dengan selalu memohon berkah Tuhan dengan penuh kesadaran untuk mengaplikasikan segenap pengetahuan dan kemampuannya secara maksimal, bekerjasama dengan kolega-koleganya dengan sinergis, maka segala usaha dan upayanya akan membawa berkah kebaikan, kesejahteraan dan kemajuan bagi instansi, jawatan atau daerah yang dipimpinnya.

Setelah doa, dilanjutkan dengan acara pemotongan tumpeng, santap bersama dan ramah tamah.

Pada saat ini, untuk praktisnya, nasi tumpeng, lauk pauk dan sesaji (kalau ada) ditaruh diatas sebuah meja. Seluruh hadirin melakukan doa bersama dengan berdiri mengelilingi meja. Kalau mejanya kecil, sesaji (kalau ada) ditempatkan dimeja lain.

 

Catatan mengenai sesaji :

Sesaji yang diadakan untuk mengiringi upacara syukuran, maksud tujuannya seperti doa. Intinya adalah bersyukur kepada Gusti Allah, dan semoga dengan berkah Nya, segala tugas akan dilaksanakan dengan selamat, baik, benar dan membawa kesejahteraan dan kemajuan yang lebih baik. Nasi tumpeng komplit sebenarnya mempunyai makna sebagai doa dan sesaji.

 

Syukuran karena terbebas dari halangan

Selain adanya syukuran yang dikarenakan dapat promosi jabatan atau dapat rejeki, orang juga melakukan syukuran setelah terbebas dari halangan berat. Misalnya setelah sembuh dari sakit yang gawat atau terbebas dari penderitaan yang amat berat. Semoga selanjutnya, selalu mendapat perlindungan dan berkah dari Gusti, Tuhan, supaya jalan kehidupannya selalu selamat, sehat dan sejahtera, bahagia lahir batin. 

 

Bersyukur kepada Gusti Allah, selalu ingat kepada asal muasal

Sudah seharusnya, setiap manusia mensyukuri keberadaannya untuk hidup didunia ini. Dengan izin Allah, melalui karsa dan jalinan kasih Ibu dan Bapak, sukma yang berasal dari mula-mula, melangkah turun untuk hidup dibumi.

Setelah melalui proses selama 9 (sembilan) bulan dalam kandungan, sukma yang sudah berpakaian badan komplit kasar dan halus, terlahir sebagai bayi, manusia baru yang akan menjalani hidup sementara didunia ini.

 

Saudara-saudara halus

Orang Jawa tradisional percaya bahwa setiap orang mempunyai beberapa saudara halus – sedulur alus, yang selalu menyertainyanya dimanapun si manusia berada. Para saudara halus yang tidak berbadan fisik ini, mengawal si manusia yang ber-raga fisik. Mereka selalu menyertai, melindungi, membantu, supaya si manusia menjalani kehidupannya dengan selamat, sehat, sejahtera selama hidup dibumi ini. Tugas tersebut adalah sesuai ketentuan dari Allah. Orang Jawa menyebut mereka : Sedulur papat kalima pancer – Saudara empat ,yang kelima pancer , yang terdiri dari :

·         Kakang Kawah, yang keluar dari rahim ibu, sebelum si bayi. Tempatnya di Timur, warnanya putih.

·         Adi Ari-ari. yang keluar dari rahim ibu, sesudah si bayi. Tempatnya di Barat, warnanya kuning.

·         Getih
Darah, yang keluar dari rahim ibu sewaktu melahirkan. Tempatnya di Selatan, warnanya merah.

·         Puser
Pusar, yang dipotong sesudah kelahiran bayi. Tempatnya di Utara, warnanya hitam.

·         Pancer
Keempat saudara diatas tidak punya raga fisik, sedangkan pancer adalah saudara kembar kita yang persis menyerupai kita, hanya saja bersifat gaib. Hanya orang yang telah terlatih dan diberikan kelebihan dari Allah sajalah yang bisa melihatnya, Pancer ini berada di tengah saudara yang empat tadi. Oleh karena itu selain disebut Sedulur papat kalimo pancer, juga dipanggil Keblat papat, kalimo tengah


Selain Sedulur papat kalimo pancer, masih ada lagi ,yaitu :

Mar Marti.

Mereka adalah saudara-saudara manusia yang lebih tua. Mereka itu tidak ikut dilahirkan melalui rahim ibu. Mar, merefleksikan perjuangan ibu saat melahirkan si bayi. Keluar daya, hawa, kekuatan yang hebat untuk hidup dan menghidupi. Marti, merefleksikan keberhasilan ibu sesudah melalui perjuangan. Perjuangan berhasil, rasanya lega. Oleh karena itu, Mar dan Marti, itu dinilai tinggi derajatnya, bagaikan raja dan ratu. Secara mistis warna cahayanya putih dan kuning muda jernih.

Mar Marti akan membantu manusia yang dikawalnya, hanya dalam hal yang penting, dalam keadaan yang benar-benar diperlukan. Manusia bisa meminta bantuan Mar Marti, sesudah dia punya pikiran dan rasa yang jernih, sesudah melalui tapa brata (laku spiritual yang sungguh-sungguh).

Saudara-saudara halus yang lain, bisa dimintai bantuan setiap saat, untuk keperluan kehidupan sehari-hari.

Lebih lanjut ada saudara-saudara halus yang dipanggil : Kabeh kadang ingsun kang metu saka margo ino lan kang metu ora saka margo ino. (Semua saudaraku yang ada, dengan melalui rahim ibu dan yang ada tanpa melalui rahim ibu). Kabeh kadang ingsun kang ora katon miwah kang ora karawatan.(Semua saudaraku yang tidak kelihatan dan tidak terawatt).

Jadi, saudara halus setiap manusia itu banyak sekali, ini yang suka disebut sedulur sinarawedi. Semua saudara halus itu dengan setia melakukan tugas yang telah digariskan Gusti Allah, untuk melindungi dan membantu satu-satunya saudara yang berujud atau bleger (bahasa Jawa) sebagai sosok manusia, yaitu sukma yang memakai raga kasar/fisik dan raga halus/eterik.

Secara umum, selama raga dan seluruh komponen si manusia, masih baik, maka “kesementaraan” keberadaan manusia didunia ini masih berlanjut. Kalau raganya, komponennya tidak berfungsi, karena rusak/penyakit atau sudah aus/tua dan tidak bisa diperbaiki lagi/disehatkan lagi, maka suksma akan kembali ke asal muasal, ke mula-mula hidup, kepada haribaan Allah.

 

Tugas-tugas saudara-saudara halus

Mar Marti  : Membantu untuk hal-hal yang sangat penting. Sedulur papat kalimo pancer dan yang lain-lain : Melindungi dan membantu untuk kelancaran hidup sehari-hari. Tentu bantuan yang diberikan, pada dasarnya adalah untuk hal-hal yang baik-baik.

Perlu diketahui bahwa semua saudara halus selalu bersama dengan figur manusia yang dikawalnya, artinya selalu bersama dengan masing-masing kita, kita sadari atau tidak. Mereka selalu melindungi dan membantu. Banyak yang tidak mengerti bahwa para pengawal yang berupa  saudara halus tersebut, juga merasa senang kalau kita menyadari  kehadiran mereka, terlebih kalau kita juga memperhatikan mereka. Kalau mereka dianggap dan diperhatikan, mereka akan membantu lebih baik lagi. Mereka senang bila setiap saat diajak berpartisipasi dalam setiap kegiatan kita, seperti : minum, makan, belajar, bekerja, menyopir, mandi dsb.

Contoh mengajak saudara-saudara halus, katakan dalam batin :

·         Semua saudara halusku (secara lengkap adalah : Kakang kawah, adi ari-ari, getih, puser, kadang ingsun papat kalimo pancer. Kabeh kadang ingsun kang metu saka margo ino lan kang metu ora saka margo ino, Kabeh kadang ingsun kang ora katon lan ora karawatan), saya mau makan, bantulah saya-Aku arep mangan, ewang-ewangana. Artinya kita dibantu bisa makan dengan selamat dan makanan itu juga baik untuk kita.

·         Semua saudara halusku, bantulah saya untuk menyopir mobil ini dengan selamat sampai kantor. Artinya selama menyopir  selamat dan sampai kantor dengan lancar, tidak ada halangan ataupun kecelakaan.

·         Semua saudara halusku bantulah saya dalam bekerja, sehingga pekerjaan saya  lancar dan benar.


Perlindungan waktu tidur

Pada waktu mau tidur, kita tidak minta dibantu oleh saudara-saudara halus, nanti mereka ikut tidur, sesuatu yang mereka tidak perlukan, karena tidur bukan alam mereka.
Pada waktu mau tidur katakan dalam batin : Semua saudara halusku, saya mau tidur, lindungilah saya. Kalau ada yang mengganggu atau membahayakan, kamu tanggulangi atau bangunkan saya. (Kabeh sedulur alus ingsun, ingsun arep turu, reksanen ingsun sajerone turu, yen ana kang ngganggu utawa mbebayani, tandangana utawa gugahen ingsun). Sambil merebahkan badan ditempat tidur, sebelum menutup mata, letakkan tangan kanan didada menyentuh jantung, katakan dalam batin : Aku iyo urip – Saya juga hidup. Ini nasihat dan berdasarkan pengalaman para pinisepuh. Biasanya tidur jadi enak, selamat, bangun tidur badan terasa segar dan cerah.

 

 

Weton
Weton atau wetonan adalah peringatan hari lahir setiap 35-tiga puluh lima hari sekali. Untuk orang Jawa tradisonal sangat penting untuk mengetahui wetonnya, sesuai dengan kalender Jawa. Dengan mengetahui tanggal, bulan dan tahun kelahiran menurut kalender Masehi, bisa diketahui weton seseorang. Hari kelahiran menurut kalender Jawa atau weton terjadi setiap selapan hari artinya setiap 35 (tiga puluh lima hari). Ini merupakan gabungan antara Hari Tujuh, Senin sampai dengan Sabtu dan Hari Lima Jawa: Legi , Paing, Pon, Wage, Kliwon.
Jadi yang lahir hari Senin, bisa Senin Legi, Senin Paing, Senin Pon, Senin Wage, Senin Kliwon. Demikian pula yang lahir dihari-hari lain Selasa dan seterusnya.
Pada  setiap saat   weton dari seseorang, misalnya Jum’at Kliwon atau Sabtu Legi. Ini adalah saat yang tepat untuk mengingat kepada saudara-saudara halus kita semua. Pada saat wetonnya, sesudah jam enam sore, karena hari Jawa mengikuti kalender sistim rembulan, jadi mulainya sore hari, orang yang  punya weton malam itu akan mengingat saudara-saudara halusnya. Biasanya orang membuat bancakan (sesaji kecil). Ada yang membuat sego gudangan (nasi dengan lauk sayur)  atau bubur merah putih dan segelas air putih matang.

Secawan bubur merah putih  dan segelas air putih itu diujubke (diberikan) kepada semua saudara halus, dengan diletakkan diatas meja dan berkata dalam batin : Ini untuk semua saudara halusku, aku selalu ingat kalian, maka itu jagalah dan bantulah aku.

Pemberian bubur merah putih dan air putih dan ucapan tersebut, itu merupakan sesaji yang paling sederhana , tetapi mendasar. Karena inti sarinya mengenali dan menghargai semua saudara halus dan ingat kepada ibu dan bapak, kedua orang tua kita, menghormati kakek nenek yang telah menurunkan kita dan yang paling penting untuk memuja dan berterima kasih kepada Sang Pencipta Hidup, Allah Yang Maha Kuasa.

Pada waktu-waktu tertentu, orang melakukan peringatan weton dengan cara mengundang beberapa kerabat atau kenalan baiknya. Pada saat seperti itu, biasanya sesaji lebih komplit, termasuk nasi tumpeng dan lauk pauknya dsb. Sesudah diadakan doa bersama, dilanjutkan dengan menyantap hidangan.

 

Hubungan serasi

Bagi orang Jawa tradisional, sangat penting untuk mempunyai hubungan yang serasi (jumbuh) dengan saudara-saudara halus. Caranya, setiap bertindak ajaklah mereka, untuk minta dibantu atau dijaga. Sebelum hubungannya terasa serasi, akrab dengan mereka, setiap saat selalu panggilah mereka lengkap, satu per satu. Kalau sudah akrab, bisa dipanggil dengan : Semua saudara halusku, bantulah aku untuk …., jagalah aku selama ……dan sebagainya menurut kebutuhan.
Namun, pada saat yang penting atau untuk urusan penting , umpamanya untuk menemani sewaktu berdoa, meditasi atau semadi, adalah bijak untuk memanggil nama mereka secara lengkap, satu per satu.

Menurut pengalaman para pinisepuh, peranan Kakang Kawah dan Adi Ari-ari dalam membantu sangatlah penting. Sesuai dengan sifat alamnya, Kakang Kawah selalu berusaha dengan sebaik-baiknya membantu terjadinya semua keinginan dan usaha, sedangkan Adi Ari-ari selalu mendukung dan menyenangkan.
Ada kalanya atau ada orang yang setiap wetonnya, selama 24 Jam, sehari semalam melakukan laku prihatin, seperti berpuasa sehari semalam, tidak tidur sama sekali selama 24 jam atau tidur hanya sedikit sesudah tengah malam, berpasrah diri kepada Gusti. Hal ini untuk mengingatkan akan posisi dan tugas seorang titah. Bahwa hidup ini tidak untuk hanya makan sepuasnya dan mengutamakan tidur yang lama dan memenuhi kehendak keduniawiannya yang mengabdi kepada materi dan egonya tetapi manusia supaya ingat, akan posisinya dan tugasnya yang mulia untuk memayu hayuning sesami lan buwana (untuk membangun kehidupan antar sesama yang baik dan melestarikan buana), supaya mampu melaksanakan kehidupan didunia ini dengan baik, benar, sejahtera, bahagia lahir batin


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: