Oleh: ki puser langit | Januari 17, 2010

ASAL MUASAL KALENDER JAWA

Dalam hati kita tentu akan bertanya-tanya, mengapa kalender Jawa sangat identik dengan kalender Hijriyah? Sebenarnya kalender ini pada awalnya sangat berbeda dan berjalan sendiri-sendiri. Namun yang kita alami pada saat ini, kedua kalender ini bisa berjalan bersama-sama bahkan sangat identik. Rasanya mustahil, karena kalender Hijriyah berasal dari negeri Arab, dan kalender Jawa dari Indonesia  yang sangat jauh dari negeri Arab. Untuk menghilangkan rasa penasaran dari benak kita, marilah kita telusuri awal mulanya mengapa dan bagaimana kalender ini bisa beriringan dan hanya berbeda angka tahunnya saja.

Dulunya kedua kalender ini berjalan sendiri-sendiri. Jauh sebelum Indonesia mengenal kalender Masehi dan Hijriyah, nenek moyang kita yang penganut aninisme, Hindu dan Budha sudah mempunyai kalender sendiri yaitu kalender Icaka. Ini pun sebenarnya bukan kalender asli Jawa, tetapi kalender India yang lahir pada 14 Maret 78 (Masehi) yang dibawa ke Jawa oleh Ajisaka setelah sebelumnya berhasil mengalahkan raja kanibal Dewatacengkar dari kerajaan Medangkamulan. Masyarakat Jawa mengenal kalender India tadi sebagai kalender Saka yang mengambil dari nama Ajisaka. Popularitas Ajisaka juga oleh kepiawaiannya menciptakan 20 biji aksara Jawa ha-na-ca-ra-ka.

Setelah Islam masuk ke Jawa, masyarakat mulai mengenal kalender Hijriyah. Tetapi kurang populer karena sudah terlanjur mengakrabi kalender Saka. Tetapi Raja Mataram Islam Sultanagung Hanyokrokusumo punya gagasan gila-gilaan untuk mereformasi kalender Saka dengan Hijriyah pada 8 Juni 1633 (Masehi), yang secara kebetulan bertepatan dengan tanggal 1 Suro 1555 Saka dan juga tanggal 1 Muharam 1043 Hijriyah. Artinya, sejak tanggal tersebut, kalender Saka diidentikkan dengan kalender Hijriyah. Reformasi gila, karena kalender Saka itu berbasis solair berdasarkan hitungan bumi mengitari matahari dimana setahunnya terdiri dari 365/366 hari, sedangkan kalender Hijriyah itu berbasis lunair berdasarkan hitungan rembulan mengitari bumi (satu tahun = 355/356 hari saja).

Reformasi gila, karena hitungan  angka tahun kalender “baru” bukan diawali dari tahun 1, tetapi tetap melanjutkan angka milik kalender Saka, yaitu tahun 1555 dst sehingga masyarakat Jawa “tertipu” bahwa kalender Jawa hasil rombakan Sultan Agung adalah juga kelanjutan kalender Saka terdahulu. Sejak 376 tahun yang lalu, tanggal 1 Suro kalender Jawa selalu bersamaan dengan 1 Muharam kalender Hijriyah, tetapi tidak pas lagi dengan 1 Suri kalender Saka. Sejak 376 tahun yang lalu kalender Saka secara terbatas tetap digunakan oleh masyarakat pemeluk Hindu di Bali, Tengger, Samin dan Badui, sampai sekarang. Di tahun Masehi 2009 sekarang ini tahun Jawa masuk hitungan ke-1943, sementara tahun Saka asli berada di hitungan tahun ke-1932. Hal itu dikarenakan kalender solair setiap tahunnya lebih panjang 10 hari ketimbang kalender lunair, menjadikan sejak 375 tahun silam antara tahun Saka dengan tahun Jawa sudah mengalami keterpautan hingga 11 tahunan.

Nah, demikian asal muasal terciptanya kalender Jawa. Semoga bisa menambah wawasan bagi kita dan juga bisa menghilangkan rasa penasaran dalam benak kita tentang bagaimana mungkin kalender Jawa bisa beriringan dan berjalan bersama serta identik dengan kalender Hijriyah. Tentang hari dan bulan pada kalender Jawa yang oleh masyarakat Jawa dianggap sebagai hari atau bulan yang sangat SAKRAL akan kami sampaikan di lain kesempatan. Semoga.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: